Perlindungan Hak Lama atas Tanah Pasca-Putusan MK Nomor 64/PUU-XXIV/2026: Rekonstruksi Kekuatan Pembuktian Sertipikat dan Penguasaan Fisik
DOI:
https://doi.org/10.55681/seikat.v5i5.4263Keywords:
Hak lama, Penguasaan fisik, Sertipikat, Pendaftaran tanah, Putusan Mahkamah KonstitusiAbstract
Penelitian ini menganalisis kekuatan pembuktian sertipikat, hak lama, dan penguasaan fisik pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 64/PUU-XXIV/2026. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif-preskriptif melalui penafsiran sistematis, gramatikal, dan teleologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan MK mempertahankan sertipikat sebagai alat bukti yang kuat, tetapi tidak menjadikannya bukti absolut. Hak lama tetap memperoleh perlindungan sepanjang dapat dibuktikan melalui riwayat perolehan, alas hak, penguasaan fisik, itikad baik, kesaksian, dan bukti pendukung lainnya. Persoalan utama pascaputusan terletak pada belum adanya parameter yang sistematis untuk menentukan bobot pembuktian ketika sertipikat berhadapan dengan hak historis. Penelitian ini menawarkan model pembuktian berlapis-integratif yang mencakup validitas administratif sertipikat, genealogi hak, kontinuitas penguasaan fisik, itikad baik, dan pembagian beban pembuktian secara dinamis. Model tersebut ditujukan untuk menyeimbangkan kepastian hukum dengan perlindungan terhadap kebenaran materiil dalam sengketa pertanahan.
Downloads
References
Sadi, M., Hayatuddin, K., & Suharyono. (2024). Hukum agraria di Indonesia (Cet. 2). Kencana. https://opacperpustakaan.jogjakota.go.id/inlislite3/opac/detail-opac?id=53537
Santoso, U. (2026). Hukum agraria: Kajian komprehensif (Ed. 2). Prenada Media. https://prenadamedia.com/product/hukum-agraria-kajian-komprehensif-edisi-empat/
Sutedi, A. (2023). Peralihan hak atas tanah dan pendaftarannya. Sinar Grafika. https://books.google.co.id/books?id=UmWqEAAAQBAJ
Arif, M. M., & Sukirno. (2024). Analisis perlindungan dan kepastian hukum bagi pemegang hak atas tanah dikaitkan lembaga rechtsverwerking. Notarius, 17(2), 995–1013. https://doi.org/10.14710/nts.v17i2.48982
Artika, S. D., & Silviana, A. (2025). Kepastian hukum atas pemilik tanah yang tumpang tindih akibat penerbitan sertifikat PTSL. Notarius, 18(1), 140–156. https://doi.org/10.14710/nts.v18i1.57791
Artina, D., Indra, M., Diana, L., Tiraputri, A., & Saragih, G. M. (2024). Overlapping regulation: Kepastian hak ulayat atas tanah masyarakat hukum adat Muara Sakal Pelalawan Riau. Masalah-Masalah Hukum, 53(1), 23–34. https://doi.org/10.14710/mmh.53.1.2024.23-34
Baihaqi, S. A., & Musyafah, A. A. (2024). Registrasi sertifikat hak atas tanah yang tidak sesuai dengan wilayah administrasi kantor pertanahan. Notarius, 17(3), 2232–2248. https://doi.org/10.14710/nts.v17i3.54426
Elkas, W. D., Pujiwati, Y., & Nugroho, B. D. (2023). Program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL) untuk memberikan kepastian hukum pada masyarakat adat Minangkabau. ACTA DIURNAL Jurnal Ilmu Hukum Kenotariatan, 7(1). https://doi.org/10.23920/acta.v7i1.1402
Feril, H. (2025). Penyelesaian sengketa tumpang tindih sertifikat hak guna bangunan dengan hak milik: Studi kasus tumpang tindih Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 00538/Nagara Lingkuang Aua. Jurnal Hukum Lex Generalis, 6(9). https://doi.org/10.56370/jhlg.v6i9.1580
Hafid, M. A., Fahrezi, M. I., Altoffiestin, D., & Ridha, M. C. (2026). Problematika konversi sertifikat fisik lama ke sertipikat elektronik dalam penyelesaian sengketa pertanahan: Studi kasus tumpang tindih sertifikat di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Jurnal Hukum Sasana, 12(1), 202–222. https://doi.org/10.31599/sasana.v12i1.4833
Heryanti, Sanib, S. S., Haris, O. K., Dewa, M. J., Saifuddin, S., & Novra, M. (2024). Perlindungan hukum terhadap sertipikat hak milik atas tanah akibat cacat administrasi. Halu Oleo Legal Research, 6(2), 258–269. https://doi.org/10.33772/holresch.v6i2.777
Lobubun, M. (2026). Legal certainty in the registration of land subject to the hak ulayat of customary law communities following ATR/BPN Ministerial Regulation No. 14 of 2024. Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren, 6(2), 127–142. https://doi.org/10.46924/jihk.v6i2.509
Mahadewi, I. A. M. A., & Dahana, C. D. (2024). Penyelesaian sengketa sertifikat tanah ganda di Badan Pertanahan Nasional. Kertha Semaya: Journal Ilmu Hukum, 12(6). https://doi.org/10.24843/KS.2024.v12.i06.p13
Muri, D. P. D., Wibawanti, E. S., & Safitri, M. I. (2025). Sertipikat elektronik sebagai jaminan perlindungan hak atas tanah dalam pelaksanaan pendaftaran tanah. Jurnal USM Law Review, 8(2), 1126–1147. https://doi.org/10.26623/julr.v8i2.12136
Rahmi, M. A. N., & Aminah. (2024). Perlindungan hukum pemilik sertipikat hak atas tanah terdahulu yang overlapping (Studi kasus pada Putusan PTUN No. 67/G/2017/PTUN.SMG). Notarius, 17(2), 841–856. https://doi.org/10.14710/nts.v17i2.53836
Roziqin, Hakim, & Dimyati. (2024). Kepastian hukum pengaturan hak atas tanah dalam pluralisme hukum. Journal de Facto, 11(1), 135–145. https://doi.org/10.36277/jurnaldefacto.v11i1.228
Rusmini. (2025). Keabsahan sertifikat hak milik atas tanah karena adanya cacat administrasi. Justici, 18(1), 1–8. https://doi.org/10.35449/justici.v18i1.863
Sa’diyah, A., & Aminah. (2024). Sengketa tanah bersertipikat ganda (Analisis Putusan Pengadilan Negeri No. 134/Pdt.G/2019/PN Amb). Notarius, 17(1), 462–479. https://doi.org/10.14710/nts.v17i1.46628
Setiawan, M. R., & D., L. P. T. (2025). Kedudukan pembuktian hak lama dalam rangka pendaftaran hak atas tanah di Indonesia. Ganec Swara, 19(2), 601–607. https://doi.org/10.59896/gara.v19i2.269
Setyawan, A. P., AS, A. N., & Erpuat. (2026). Kepastian hukum kepemilikan tanah dalam kasus sertipikat ganda (Studi Putusan PN Semarang Nomor 237/Pdt.G/2024). Law Jurnal, 7(1), 349–364. https://doi.org/10.46576/lj.v7i1.8561
Sumendap, S. P. R., & Soerodjo, I. (2024). Kepastian hukum atas tanah bekas milik adat ditinjau berdasarkan peraturan yang berlaku. Jurnal Pendidikan Indonesia, 5(12), 2104–2116. https://doi.org/10.59141/japendi.v5i12.6578
Utama, T. S. J., & Sari, A. C. F. (2025). Aspek-aspek yang terabaikan dalam pendaftaran tanah desa adat di Bali. Undang: Jurnal Hukum, 7(1), 43–74. https://doi.org/10.22437/ujh.7.1.43-74
Utami, T. P., & Cahyono, A. B. (2024). Perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah dikaitkan dengan sistem publikasi negatif bertendensi positif dalam sistem pendaftaran tanah secara elektronik: Studi banding dengan negara Australia. Indonesian Notary, 6(2), 81–86. https://doi.org/10.21143/notary.vol6.no1.81
Wahid, A., Handayani, I. G. A. K. R., & Karjoko, L. (2026). Critique of the land registration system based on a negative publication system with positive elements in Indonesia. Jurnal Konstitusi, 23(2), 305–336. https://doi.org/10.31078/jk2325
Wiryawan, I. W., Budiartha, I. N. P., & Sujana, I. G. (2025). The development of customary doctrine of rechtsverwerking: How to ensure legal certainty in land registration? Udayana Journal of Law and Culture, 9(2). https://doi.org/10.24843/UJLC.2025.v09.i02.p04
Zahra, M., & Priyono, E. A. (2025). Kepastian hukum atas status tanah adat setelah berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria. Legal Standing: Jurnal Ilmu Hukum, 9(1), 131–146. https://doi.org/10.24269/ls.v9i1.10973
Republik Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 tentang hak pengelolaan, hak atas tanah, satuan rumah susun, dan pendaftaran tanah. https://peraturan.bpk.go.id/Details/161848
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 64/PUU-XXIV/2026. https://jdih.mkri.id
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026, February 20). Anggota masyarakat adat persoalkan pendaftaran tanah. https://www.mkri.id/berita/anggota-masyarakat-adat-persoalkan-pendaftaran-tanah-24635
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026, March 5). Anggota masyarakat adat perkuat kerugian konstitusional akibat masalah pendaftaran tanah. https://www.mkri.id/berita/anggota-masyarakat-adat-perkuat-kerugian-konstitusional-akibat-masalah-pendaftaran-tanah-24726
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026, July 23). Pendaftaran tanah merupakan upaya negara menjamin kepastian hukum. https://www.mkri.id/berita/pendaftaran-tanah-merupakan-upaya-negara-menjamin-kepastian-hukum-25468
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Fadhil, Emelia Kontesa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








