Plea Bargaining Pasca-UU Nomor 20 Tahun 2025: Voluntariness, Due Process, dan Perlindungan Hak Terdakwa
DOI:
https://doi.org/10.55681/seikat.v5i5.4232Keywords:
Plea bargaining, Voluntariness, Due process, Hak terdakwa, Pengakuan bersalahAbstract
Penerapan plea bargaining melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 menimbulkan persoalan mengenai kesukarelaan pengakuan, due process, dan perlindungan hak terdakwa. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsistensi perlindungan dalam Pasal 78, Pasal 205, dan Pasal 234 KUHAP serta merumuskan standar konstitusional pengakuan bersalah pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 213/PUU-XXIV/2026. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, kasus, dan perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat perlindungan prosedural dalam ketiga mekanisme pengakuan bersalah. Pasal 78 dan Pasal 205 menyediakan kontrol lebih kuat terhadap voluntariness, bantuan hukum, dan proses pembentukan pengakuan, sedangkan Pasal 234 memiliki pengaturan yang lebih terbatas. Putusan MK Nomor 213/PUU-XXIV/2026 belum memberikan penilaian substantif karena permohonan tidak dapat diterima. Penelitian ini menawarkan lima standar minimum berupa free and voluntary plea, knowing and intelligent waiver, effective assistance of counsel, factual basis requirement, dan substantive judicial scrutiny. Standar tersebut diperlukan untuk menyeimbangkan efisiensi peradilan dengan perlindungan konstitusional terdakwa
Downloads
References
Afandi, F. (2024). Sistem peradilan pidana (Edisi 1). Universitas Terbuka.
Efendi, J., & Rijadi, P. (2023). Metode penelitian hukum: Normatif dan empiris (Edisi 2). Prenada Media.
Hiariej, E. O. S., Manthovani, R., Akbar, M. F., & Rachman, T. (2026). Anotasi KUHAP: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Rajawali Pers.
Kristiawanto. (2024). Sistem peradilan pidana: Ide dasar perlindungan hak asasi manusia. Nas Media Pustaka.
Rizkia, N. D., & Fardiansyah, H. (2023). Metode penelitian hukum (normatif dan empiris). Widina Media Utama.
Sembiring, E. D., & Susilo, E. (2024). Perkembangan sistem peradilan pidana: Mengurai dalam konteks global dan analisis konsep Indonesia. Citra Aditya Bakti.
Situmeang, S. M. T. (2025). Hukum acara pidana dalam teori dan praktik. Refika Aditama.
Weriansyah, A., Siagian, M. N., Assyifa, A., Tanri, A., Paulina, A. L., & Praptadina, S. B. (2024). Pembaruan hukum acara pidana pasca berlakunya KUHP 2023. Indonesia Judicial Research Society.
Zulkarnain, S. (2025). Hukum acara pidana dalam teori dan praktik di Indonesia. Rajawali Pers.
Abuthalib, C. N. S., Ismail, D. E., & Ahmad. (2026). Plea bargaining dalam bayang-bayang keadilan: Antara efisiensi penegakan hukum dan degradasi nilai kepastian hukum. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(1), 1130–1146.
Adriyani, A. N., Wahidin, & Saputra, M. I. (2024). The role of the prosecutor’s office in implementing plea bargaining: A study in the Indonesian judicial system. DELICTUM: Jurnal Hukum Pidana Islam, 2(2), 16–25.
Alimuddin, Zahir, M. Z. A.-K., Rasyid, M. F., & Hastira, M. F. (2024). Plea bargaining dalam rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana negara Indonesia. Legal Standing: Jurnal Ilmu Hukum, 8(2), 418–430.
Gunowo, S. (2025). Model plea bargaining pada sistem penuntutan Indonesia dalam perspektif jaksa. Hakim: Jurnal Ilmu Hukum dan Sosial, 3(4).
Haeranah, Mirzana, H. A., Anas, A. M. A., Iskandar, I., Arifin, A. P., Amri, U., & Normiati. (2025). The concept of plea bargain in the criminal process system in Indonesia. LAW REFORM, 21(1), 1–16. https://doi.org/10.14710/lr.v21i1.66764
Hendra, Akbar, T. N., & Merta, M. M. (2026). Menjaga keseimbangan antara efisiensi proses hukum dan keadilan dalam implementasi plea bargaining pada KUHAP. Solusi, 24(2).
Illah, A. (2026). Analisis yuridis pengaturan plea bargaining dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Dinamika, 32(2).
Iskandar. (2026). Dialektika efisiensi peradilan dan keadilan substantif: Tinjauan kritis implementasi “jalur khusus” (plea bargaining) dalam KUHAP baru. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4. https://doi.org/10.61104/alz.v4i4.7605
Kristianto, W., & Chariansyah, H. (2026). Pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus dalam penelitian hukum normatif. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11(3). https://doi.org/10.23969/jp.v11i03.63626
Kurniawan, I. D., & Budyatmojo, W. (2025). The urgency of implementing plea bargaining in the Indonesian criminal justice system. Jurnal Education and Development, 13(1), 205–209.
Nasoetion, D. W., Soekorini, N., & Hartoyo. (2025). Plea bargaining in the 2025 Draft Indonesian Criminal Procedure Code: Legal certainty and justice. Jurnal Hukum Sehasen, 11(2), 639–648.
Ngilawane, C. G., Pieter, S., & Tajuddin, M. A. (2025). Plea bargaining as a reform of criminal procedural law to realize the principle of swift, simple, and low-cost justice. LUTUR Law Journal, 6(2), 174–182. https://doi.org/10.30598/lutur.v6i2.24046
Novrianto, M., Taufiq, M., & Indrajaya. (2026). Perlindungan hak asasi terdakwa dalam mekanisme pengakuan bersalah (plea bargaining) berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Jurnal Kepastian Hukum dan Keadilan, 8(1). https://doi.org/10.32502/khk.v8i1.11429
Paklioy, R. P. D., Titahelu, J. A. S., & Latumaerissa, D. (2024). Penerapan konsep plea bargaining dalam sistem peradilan pidana terpadu di Indonesia. TATOHI: Jurnal Ilmu Hukum, 4(8), 651–669.
Pebrianto, R., Noviana, & Dharma, M. P. P. (2026). Eksistensi asas non self-incrimination dalam praktik plea bargaining: Studi komparatif dan implikasinya dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Referendum: Jurnal Hukum Perdata dan Pidana, 3(1), 1–12. https://doi.org/10.62383/referendum.v3i1.1667
Picaesa, A. D., & Abigael, F. (2026). Konstruksi normatif pengakuan bersalah dalam KUHAP terbaru: Adaptasi mekanisme common law dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Jurnal Legalitas, 4(1), 43–53.
Putri, M. I., Ufran, & Saipudin, L. (2024). Pengaturan konsep lembaga plea bargaining dalam pembaharuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Parhesia, 2(1), 23–34. https://doi.org/10.29303/parhesia.v2i1.4035
Sapanah, M., & Lewoleba, K. K. (2026). Plea bargaining and Indonesia’s special track under the new KUHAP: A comparative study with United State. Al-Risalah Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum, 26(1). https://doi.org/10.24252/al-risalah.vi.64931
Serman, S. M. A., & Rozah, U. (2025). Regulation of plea bargaining policy as a novelty in criminal justice system to create effective and efficient criminal law enforcement: A study of RUU KUHAP. Journal of Law, Politic and Humanities, 5(4), 2304–2315. https://doi.org/10.38035/jlph.v5i4.1454
Simatupang, P. M., & Mahardhika, V. (2026). Analisis yuridis pengaturan pengakuan bersalah (plea bargaining) dalam KUHAP dan perbandingan dengan negara Amerika Serikat. Indonesian Journal of Contemporary Law, 3(2).
Syafrina, H. D., Illahi, S. S., Putra, B. P. H., & Hasnaa, N. T. (2026). Model pengaturan plea bargaining dalam pembaharuan hukum acara pidana Indonesia. Jurnal USM Law Review, 9(1), 361–380. https://doi.org/10.26623/julr.v9i1.13391
Ternando, A., Diar, A., Siregar, N. O., & Aima, M. H. (2026). Reformulating the concept of plea bargaining in the criminal justice system following the new Criminal Code and Criminal Procedure Code. Greenation International Journal of Law and Social Sciences, 4(3), 734–744.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026, July 16). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 213/PUU-XXIV/2026.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2026, January 2). Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Implementasi KUHP 2023 dan KUHAP 2025.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2026, April 2). Pengadilan Negeri Kalianda menerapkan mekanisme pengakuan bersalah (plea bargain).
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2026, February 23). Press release PN Pasarwajo penerapan KUHAP: Plea bargain dan MKR.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026). Detail perkara Nomor 213/PUU-XXIV/2026. Sistem Informasi Penanganan Perkara dan Persidangan Mahkamah Konstitusi.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026, July 16). Tidak penuhi syarat formil, permohonan uji KUHAP tidak dapat diterima. https://www.mkri.id/berita/tidak-penuhi-syarat-formil,-permohonan-uji-kuhap-tidak-dapat-diterima-25434
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 F.A. Novlindo Jayadi, Herlita Eryke

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








