Konstitusionalisasi Politik Hukum Pidana Pasca-Putusan MK Nomor 27/PUU-XXIV/2026: Batas Kriminalisasi Penggunaan Lambang Negara
DOI:
https://doi.org/10.55681/seikat.v5i5.4233Keywords:
Kriminalisasi, Lambang Negara, Politik hukum pidana, Mahkamah Konstitusi, KonstitusionalisasiAbstract
Penelitian ini menganalisis batas konstitusional kewenangan legislator dalam mengkriminalisasi penggunaan Lambang Negara pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 27/PUU-XXIV/2026. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif melalui penafsiran sistematis, konseptual, dan konstitusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan konstitusional Garuda Pancasila tidak serta-merta membenarkan setiap bentuk kriminalisasi terhadap penggunaannya. Putusan Nomor 27/PUU-XXIV/2026 yang membatalkan Pasal 237 huruf c KUHP memperlihatkan bahwa legislator tidak dapat menghidupkan kembali substansi norma yang telah dinyatakan inkonstitusional tanpa mengatasi ratio decidendi putusan sebelumnya. Penelitian ini menawarkan konsep beban justifikasi konstitusional legislator yang mencakup legitimasi kepentingan hukum, keseriusan bahaya, kebutuhan dan subsidiaritas, proporsionalitas, kepastian norma, serta konsistensi terhadap preseden konstitusional. Rekriminalisasi terhadap substansi yang pernah dibatalkan Mahkamah Konstitusi memerlukan justifikasi konstitusional yang lebih tinggi. Konstitusionalisasi politik hukum pidana diperlukan untuk memastikan kebijakan kriminalisasi tetap berada dalam batas supremasi konstitusi dan perlindungan hak warga negara.
Downloads
References
Hiariej, E. O. S. (2024). Prinsip-prinsip hukum pidana: Edisi penyesuaian KUHP nasional. Rajawali Pers. https://rajagrafindo.co.id/produk/prinsip-prinsip-hukum-pidana-edisi-penyesuaian-kuhp-nasional-eddy-o-s-hiariej/
Hiariej, E. O. S., & Santoso, T. (2026). Anotasi KUHP nasional: Diperbaharui dengan UU penyesuaian pidana (2nd ed.). Rajawali Pers. https://rajagrafindo.co.id/produk/anotasi-kuhp-nasional-diperbaharui-dengan-uu-penyesuaian-pidana-edisi-kedua-eddy-o-s-hiariej-topo-santoso/
Akbar, M. F. (2024). The impacts of Constitutional Court decisions on criminal policy of Indonesia: Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap politik kriminal Indonesia. Jurnal Konstitusi, 21(3), 448–463. https://doi.org/10.31078/jk2136
Christia, A. M., Wardhani, L. C., Tristy, M. T., & Surya, F. A. (2024). The legal politics of the enforcement of Constitutional Court decisions in Indonesia: Politik hukum eksekusi Putusan Mahkamah Konstitusi di Indonesia. Lex Renaissance, 9(1), 62–84. https://doi.org/10.20885/JLR.vol9.iss1.art4
Darmawan, D., & Tongat. (2025). Kebijakan kriminalisasi dalam KUHP baru: Studi kritis terhadap tindak pidana penghinaan presiden. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 3(6), 8239–8247. https://doi.org/10.61104/alz.v3i6.2499
Jufri, M., Fahmi, A. A., Aidonojie, P. A., Asyiqoh, L., & Ikubanni, O. O. (2024). Standardisation of the legislation as a follow-up to the Constitutional Court’s decision on judicial review of omnibus law: Standardisasi regulasi tindak lanjut Putusan Mahkamah Konstitusi pada perkara pengujian undang-undang omnibus. Jurnal Konstitusi, 21(3), 366–391. https://doi.org/10.31078/jk2132
Muttaqin, L., Atmoredjo, S., & Omara, A. (2024). The relationship between Pancasila and Constitutional Court decisions as a source of law in Indonesia: Relasi Pancasila dengan Putusan Mahkamah Konstitusi sebagai sumber hukum di Indonesia. Jurnal Konstitusi, 21(1), 77–97. https://doi.org/10.31078/jk2115
Nadianti, E., & Ali Kusumo, B. (2025). Politik hukum pidana dalam pembaharuan hukum pidana nasional: Analisis terhadap KUHP baru Indonesia. Indonesian Journal of Law and Justice, 2(4), 1–10. https://doi.org/10.47134/ijlj.v2i4.4135
Palguna, I. G. B. W., Widodo, S., Amarini, I., & Susanti, R. (2026). Kajian open legal policy (kebijakan hukum terbuka) dalam ruang lingkup pengujian pidana minimum oleh Mahkamah Konstitusi. YUSTISI, 13(2), 103–117. https://doi.org/10.32832/yustisi.v13i2.23776
Pangestu, A. (2024). Kewajiban pembentuk undang-undang dalam menindaklanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi. Lex LATA, 6(2), 160–180. https://doi.org/10.28946/lexl.v6i2.3124
Rishan, I. (2024). Populisme Mahkamah Konstitusi dalam penafsiran perkara-perkara pada wilayah open legal policy. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, 31(3), 585–609. https://doi.org/10.20885/iustum.vol31.iss3.art5
Ritonga, Z., Syam, S. A., & Lubis, F. (2024). Kebijakan kriminalisasi dan dekriminalisasi KUHP baru. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(4), 3957–3967. https://doi.org/10.31004/innovative.v4i4.13530
Saragih, G. M., Nasution, M., & Sihombing, E. N. A. M. (2025). Judicial review oleh Mahkamah Konstitusi: Judicial activism vs. judicial restraint dalam perspektif kebebasan kehakiman. Jurnal Konstitusi, 22(1), 39–65. https://doi.org/10.31078/jk2213
Taqwa, M. D. (2025). Penelusuran ide proportionality dalam Pasal 28J(2) UUD NRI Tahun 1945. Jurnal Konstitusi, 22(3), 483–507. https://doi.org/10.31078/jk2234
Tauda, G. A. (2024). Kekuatan mengikat pertimbangan hukum Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian undang-undang: Studi Putusan Nomor 20/PUU-XIX/2021. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, 31(2), 358–383. https://doi.org/10.20885/iustum.vol31.iss2.art6
Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2013, January 15). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 4/PUU-X/2012 tentang penggunaan lambang negara. https://www.mkri.id/public/content/persidangan/sinopsis/ikhtisar_1003_1022_4-PUU-X-2012-ok.pdf
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026, August 12). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 27/PUU-XXIV/2026. https://jdih.mkri.id/produk-hukum/putusan
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Lilis Yohana Nababan, Herlita Eryke

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








