Pengakuan Bersalah dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Pasca KUHAP 2025: Antara Efisiensi Peradilan dan Perlindungan Kepentingan Publik

Authors

  • Dwi Ratnasari Program Studi Magister Hukum, Fakultas Hukum, Universitas
  • Herlita Eryke Program Studi Magister Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Bengkulu
  • Herawan Sauni Program Studi Magister Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Bengkulu

DOI:

https://doi.org/10.55681/seikat.v5i5.4106

Keywords:

Pengakuan Bersalah, Tindak pidana korupsi, KUHAP 2025, Kepentingan publik, Plea bargaining

Abstract

Pembaruan hukum acara pidana melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP memperkenalkan mekanisme Pengakuan Bersalah sebagai instrumen penyelesaian perkara yang berorientasi pada efisiensi peradilan. Persoalan muncul ketika mekanisme tersebut diterapkan pada tindak pidana korupsi, khususnya Pasal 605 dan Pasal 606 KUHP yang secara normatif dapat memenuhi ambang ancaman pidana dalam Pasal 78 dan Pasal 234 KUHAP. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi Pengakuan Bersalah pasca KUHAP 2025, menilai ketegangan antara efisiensi peradilan dan perlindungan kepentingan publik, serta merumuskan model penerapan yang sesuai bagi perkara korupsi. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelayakan formal berdasarkan ancaman pidana tidak cukup untuk menentukan penggunaan Pengakuan Bersalah pada perkara korupsi. Penerapannya harus mempertimbangkan diskresi jaksa, kontrol hakim, transparansi, pemulihan aset, tingkat kerja sama terdakwa, dan pengungkapan jaringan pelaku. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 213/PUU-XXIV/2026 belum menyelesaikan persoalan tersebut secara substantif. Penelitian ini menawarkan Public Interest Safeguarded Guilty Plea Model melalui formal eligibility test dan public interest eligibility test. Model ini menegaskan bahwa efisiensi hanya dapat dibenarkan apabila menghasilkan nilai penegakan hukum yang terukur serta tetap melindungi kepentingan publik.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alkon, C., & Schneider, A. K. (2025). Negotiating crime: Plea bargaining, problem solving, and dispute resolution in the criminal context (2nd ed.). Carolina Academic Press. https://books.google.com/books/about/Negotiating_Crime.html?id=fe4d0QEACAAJ

Buell, S. W. (2024). Corporate crime: An introduction to the law and its enforcement (4th ed.). Esplanade Press. https://scholarship.law.duke.edu/faculty_books/39/

Dervan, L. E., Covey, R. D., & Johnson, T. B. (Eds.). (2024). The cost of plea bargains: Reflections and recommendations from the ABA Plea Bargain Task Force. American Bar Association. https://www.americanbar.org/products/inv/book/440099902/

Langer, M., McConville, M., & Marsh, L. (Eds.). (2024). Research handbook on plea bargaining and criminal justice. Edward Elgar Publishing. https://doi.org/10.4337/9781802206678

Li, E., Yuan, X., & Zhang, Y. (Eds.). (2024). Criminal case dispositions through pleas in Greater China: Conception, operation and contradiction. Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1007/978-981-97-1856-6

Margono, R., & Wallad, A. A. F. (2024). Plea bargaining: Implementasi dan tantangan dalam sistem peradilan pidana modern. https://ypad.store/product/plea-bargaining-implementasi-dan-tantangan-dalam-sistem-peradilan-pidana-modern/

Nicholls, C., Bacarese, A., Maton, J., Scott, R., & Hatchard, J. (2024). Corruption and misuse of public office (4th ed.). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780198907329.001.0001

Olaniyan, K. (2023). Ownership of proceeds of corruption in international law. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780192867834.001.0001

Slobogin, C. (2025). Rationalizing plea bargaining. In Rehabilitating criminal justice. Cambridge University Press. https://www.cambridge.org/core/books/rehabilitating-criminal-justice/rationalizing-plea-bargaining/406544E5F97892F038162BAB777C7B68

Adebanjo, O. T., & Aluko, N. (2025). The effectiveness of plea bargaining in high-profile corruption cases in Nigeria: Analyzing sentencing trends, judicial discretion, and public perception (2010–2024). Law and Economy. https://www.paradigmpress.org/le/article/view/1543

Azryal, R. (2026). Implementasi pengakuan bersalah (plea bargaining) dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dalam tujuan pemidanaan di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik, 6(4). https://doi.org/10.38035/jihhp.v6i4.8520

Effendi, T., & Setyawan, F. (2025). Kemandirian jaksa dalam proses plea agreement di negara-negara dengan indeks persepsi korupsi rendah: Perbandingan pelaksanaan di Indonesia, Argentina dan Filipina. Inicio Legis, 6(1). https://journal.trunojoyo.ac.id/iniciolegis/article/view/30187

Helm, R. K. (2024a). The challenge of “factual hard cases” for guilty plea regimes. Modern Law Review, 87. https://doi.org/10.1111/1468-2230.12876

Helm, R. K. (2024b). The psychology of guilty plea decisions. Annual Review of Law and Social Science, 20, 183–199. https://doi.org/10.1146/annurev-lawsocsci-041822-032654

Illah, A. (2026). Analisis yuridis pengaturan plea bargaining dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Dinamika. https://jim.unisma.ac.id/index.php/jdh/article/view/31637

Iskandar. (2026). Dialektika efisiensi peradilan dan keadilan substantif: Tinjauan kritis implementasi “jalur khusus” (plea bargaining) dalam KUHAP baru. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(4). https://doi.org/10.61104/alz.v4i4.7605

Jatikusuma, R. M. A., & Nurbaedah. (2025). Plea bargaining system (kesepakatan dalam proses hukum pidana) dalam tindak pidana korupsi kecil (petty corruption). Mizan: Jurnal Ilmu Hukum, 14(1). https://doi.org/10.32503/mizan.v14i1.6883

Nasoetion, D. W., Soekorini, N., & Hartoyo. (2025). Plea bargaining in the 2025 Draft Indonesian Criminal Procedure Code: Legal certainty and justice. Jurnal Hukum Sehasen, 11(2). https://doi.org/10.37676/jhs.v11i2.11293

Ngilawane, C. G., Pieter, S., & Tajuddin, M. A. (2025). Plea bargaining as a reform of criminal procedural law to realize the principle of swift, simple, and low-cost justice. LUTUR Law Journal, 6(2), 174–182. https://doi.org/10.30598/lutur.v6i2.24046

Picaesa, A. D., & Abigael, F. (2026). Konstruksi normatif pengakuan bersalah dalam KUHAP terbaru: Adaptasi mekanisme common law dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Jurnal Legalitas, 4(1), 43–53. https://ojsstihpertiba.ac.id/index.php/jle/issue/view/24

Pratiwi, N. (2023). Implementasi plea bargaining system kedalam pembaharuan sistem peradilan pidana tindak pidana korupsi. Kajian Ilmiah Hukum dan Kenegaraan, 2(2), 79–86. https://doi.org/10.35912/kihan.v2i2.2269

Pridayanti, N. K., & Hermanto, B. (2026). Diskursus pengaturan plea bargain dalam kebijakan hukum acara pidana pasca KUHAP baru: Perspektif kepastian hukum. Jurnal Media Akademik, 4(5). https://doi.org/10.62281/7njtyy51

Reza, M. H. M., Ali, M., & Baidi, R. (2024). Asset confiscation in corruption cases through plea bargaining system: Should Indonesia learn from Nigeria? Contemporary Issues in Criminal Law, 1(1). https://doi.org/10.20885/CICL.vol1.iss1.art4

Syafrina, H. D., Illahi, S. S., Putra, B. P. H., & Hasnaa, N. T. (2026). Model pengaturan plea bargaining dalam pembaharuan hukum acara pidana Indonesia. Jurnal USM Law Review, 9(1), 361–380. https://doi.org/10.26623/julr.v9i1.13391

Zariyanto, A. A. A., & Fathir, M. A. (2026). Plea bargaining terhadap tindak pidana korupsi: Problematika penerapan dalam perspektif teori deterrence dan tujuan pemidanaan. Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 6(1). https://penerbitadm.pubmedia.id/index.php/iso/issue/view/107

Indonesia. (2025). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. https://peraturan.bpk.go.id/Details/337302

Indonesia. (2026). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. https://peraturan.bpk.go.id/Details/317019.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2024). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 142/PUU-XXII/2024. https://pasal.id/peraturan/putusan-mk/puu-mk-142-2024

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2026). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 213/PUU-XXIV/2026 (16 Juli 2026). https://www.mkri.id/berita/tidak-penuhi-syarat-formil%2C-permohonan-uji-kuhap-tidak-dapat-diterima-25434

Pratama, D. B. (2026, July). Jaksa tuntut tiga pemberi suap anggota DPRD NTB 1,5 tahun penjara. ANTARA. https://www.antaranews.com/berita/5630636/jaksa-tuntut-tiga-pemberi-suap-anggota-dprd-ntb-15-tahun-penjara

Rahmawaty, L. (2026, June). Kejagung serahkan tersangka Hery Susanto ke JPU. ANTARA. https://www.antaranews.com/berita/5599727/kejagung-serahkan-tersangka-hery-susanto-ke-jpu

Ramadhan, M. H. (2026, March 11). Mengurai hak yang dilepaskan dan kewajiban hakim dalam pengakuan bersalah. Suara BSDK. https://suarabsdk.com/mengurai-hak-yang-dilepaskan-dan-kewajiban-hakim-dalam-pengakuan-bersalah/

Downloads

Published

2026-10-14

How to Cite

Dwi Ratnasari, Eryke, H., & Sauni, H. (2026). Pengakuan Bersalah dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Pasca KUHAP 2025: Antara Efisiensi Peradilan dan Perlindungan Kepentingan Publik. SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan Hukum, 5(5), 33403–3419. https://doi.org/10.55681/seikat.v5i5.4106