Sah tetapi Tidak Diterima: Legitimacy Gap dalam Penertiban Aset Daerah di Provinsi Lampung

Authors

  • Theo Reynol Sandy Universitas Bandar Lampung
  • Tina Miniawati Barusman

DOI:

https://doi.org/10.55681/seikat.v5i5.3904

Keywords:

Legitimacy Gap, Proporsionalitas, Kepatuhan Pasif, Keadilan Distributif, Penertiban Aset Daerah

Abstract

Penertiban aset daerah kerap menghadirkan paradoks: tindakan yang sah menurut hukum justru ditolak warga sebagai tidak adil. Penelitian ini menganalisis penertiban aset Pemerintah Provinsi Lampung di Kelurahan Sukarame Baru dan Desa Sabah Balau (2025) untuk menjawab dua pertanyaan: mengapa benturan antara pengamanan aset publik dan perlindungan hak sosial warga tidak terjembatani, dan sejauh mana pelaksanaannya memenuhi keadilan sosial serta proporsionalitas. Studi kasus kualitatif ini menggunakan wawancara mendalam terhadap sepuluh informan, observasi partisipatif yang direduksi menjadi 76 unit temuan terkode, dan studi dokumen termasuk catatan satuan tugas, dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil menunjukkan tiga kondisi struktural: pendefinisian masalah yang tunggal secara legalistik; ketiadaan mekanisme dan aktor penjembatan, sebab mobilisasi 1.200 personel tidak diimbangi basis data sosial yang hanya merekam nama dan jumlah penghuni bagi kurang lebih 102 jiwa; serta asimetri posisi negara dan warga yang tidak dikelola. Warga menerima status hukum lahan tetapi menolak caranya, sehingga kelancaran tahap kedua — 27 dari 30 bidang dibongkar mandiri sebulan sebelum pelaksanaan — terbaca sebagai kepatuhan pasif. Uji proporsionalitas menemukan suitability terpenuhi hanya secara administratif, sedangkan necessity dan balancing tidak, menandakan absennya proportionality gate. Legitimacy gap terbukti merupakan konsekuensi desain kebijakan yang berangkat dari legalitas, bukan dari perencanaan sosial.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alexy, R. (2003). Constitutional rights, balancing, and rationality. Ratio Juris, 16(2), 131–140. https://doi.org/10.1111/1467-9337.00228

Alfian, A., Harapan Tua, R. F. S., & Rusli, Z. (2023). Implementasi prinsip good governance aset negara. Jurnal Kebijakan Publik, 14(2), 227. https://doi.org/10.31258/jkp.v14i2.8238

Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571. https://doi.org/10.1093/jopart/mum032

ANTARA Lampung. (2025). Pemprov Lampung tertibkan sekitar 43 rumah di Lamsel dan Bandarlampung. ANTARA Lampung.

Barak, A. (2012). Proportionality: Constitutional rights and their limitations. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781139035293

Beetham, D. (2013). The legitimation of power (2nd ed.). Red Globe Press.

Bintang, A. S., & Khalid. (2025). Penggusuran pedagang pasar di trotoar jalan oleh Satpol PP di Kecamatan Sidikalang menurut Perda Kabupaten Dairi Nomor 1 Tahun 2016 tentang Ketertiban Umum perspektif Siyasah Dusturiyah. Riwayat, 8(4), 7187–7200. https://doi.org/10.24815/jr.v8i4.50235

Bozeman, B. (2007). Public values and public interest: Counterbalancing economic individualism. Georgetown University Press.

Committee on Economic, Social and Cultural Rights. (1997). General Comment No. 7: The right to adequate housing (Art. 11.1): Forced evictions. United Nations.

Gubernur Lampung. (2025). Keputusan Gubernur Lampung Nomor 106 Tahun 2025 tentang Pembentukan Tim Penertiban Aset Pemerintah Provinsi Lampung di Kelurahan Sukarame Baru Bandar Lampung dan Desa Sabah Balau Lampung Selatan Tahun 2025.

Herbiyansa, H., Setiawan, B. P., Ananda, A., Halim, A., Wahyutin, U., Ainaf, Q., & Putri, I. A. (2025). Resistensi masyarakat pada penggusuran: Studi kasus Kota Bandar Lampung. Jurnal Kajian Hukum dan Kebijakan Publik, 2(2), 1246–1251. https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jkhkp/article/view/809

Irwana, A., Halim, A., Sari, M., & Susiati. (2025). Analisis penggusuran dalam kebijakan penertiban aset daerah oleh Pemerintah Provinsi Lampung di Kecamatan Sukarame. Jurnal Kajian Hukum dan Kebijakan Publik, 2(2), 1265–1271.

Isworo, T., & Atika. (2025, 12 Februari). Warga korban penertiban aset Pemprov kebingungan kehilangan tempat tinggal. Lampost.co.

Kaganova, O., & McKellar, J. (2006). Managing government property assets: International experiences. The Urban Institute.

Komisi Pemberantasan Korupsi. (2019). KPK fasilitasi nota kesepahaman antara pemda dengan DJP dan BPN Lampung. Komisi Pemberantasan Korupsi.

Lampung Geh. (2025, 6 November). Pemprov Lampung tertibkan 30 bangunan, disiapkan untuk pengembangan agro park. Kumparan.

Malik, M., Farida, I., & Alhusnuriski, M. (2021). Efektifitas kinerja pejabat fungsional Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Lampung dalam pencegahan penyebaran Covid-19. e-JKPP, 7(1). https://doi.org/10.36448/ejkpp.v7i1.1944

Mardiasmo. (2021). Akuntansi sektor publik: Edisi terbaru. Penerbit Andi.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Pemerintah Provinsi Lampung. (2025). Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Lampung Tahun 2024.

Prasetyawati, S. E., & Deslapana. (2021). Analisis implementasi Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta pada tingkat ketelitian peta skala 1:50.000 (Studi pada Kantor Pertanahan Kabupaten Lampung Utara). Keadilan Progresif, 12(2), 126–136.

Rawls, J. (1999). A theory of justice (rev. ed.). Harvard University Press.

Ridwan, R., Kusmanto, H., Warjio, W., & Kadir, A. (2020). Efektivitas kinerja Satuan Polisi Pamong Praja dalam penertiban pedagang kaki lima di Pasar Peureulak Gampong Keude Kabupaten Aceh Timur. Strukturasi: Jurnal Ilmiah Magister Administrasi Publik, 2(1), 39–47. https://doi.org/10.31289/strukturasi.v2i1.41

Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Lampung. (2024). Penyerahan surat pemberitahuan terkait pengosongan lahan milik Pemprov Lampung kepada masyarakat wilayah Sabah Balau dan Sukarame Baru. Website Satpol PP Provinsi Lampung.

Savira, A., Isnawaty, N. W., & Karlina, N. (2023). Koordinasi dalam penertiban bangunan liar di Kecamatan Tanjung Priok Kota Jakarta Utara. JANE (Jurnal Administrasi Negara), 14(2), 513–519. https://doi.org/10.24198/jane.v14i2.45065

Scharpf, F. W. (1999). Governing in Europe: Effective and democratic? Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780198295457.001.0001

Schmidt, V. A. (2013). Democracy and legitimacy in the European Union revisited: Input, output and ‘throughput’. Political Studies, 61(1), 2–22. https://doi.org/10.1111/j.1467-9248.2012.00962.x

Schön, D. A., & Rein, M. (1994). Frame reflection: Toward the resolution of intractable policy controversies. Basic Books.

Shahrad, A., Stålhammar, S., & Gulsrud, N. M. (2025). Procedural justice for whom? A case study of a densification project. Local Environment, 30(4), 546–566. https://doi.org/10.1080/13549839.2024.2447757

Suchman, M. C. (1995). Managing legitimacy: Strategic and institutional approaches. Academy of Management Review, 20(3), 571–610.

Tyler, T. R. (2003). Procedural justice, legitimacy, and the effective rule of law. Crime and Justice, 30, 283–357. https://doi.org/10.1086/652233

van Oostrum, M. (2025). Monitoring urban displacement: A new methodology for tracking informal settlement eviction. International Journal of Urban and Regional Research, 49(5), 1239–1250. https://doi.org/10.1111/1468-2427.13354

Wahyuni, R. (2022). Perlindungan hak atas tempat tinggal warga terdampak penggusuran di kawasan perkotaan berdasarkan perspektif HAM. Jurnal Yuridis, 9(1), 37–55. https://doi.org/10.35586/jyur.v9i1.4170

Wicaksono, R. (2025). Habitus membentur field yang berubah: Sikap pedagang kaki lima Malioboro terhadap relokasi dalam kerangka Bourdieu. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 14(3), 119–132. https://doi.org/10.21831/dimensia.v14i3.87907

Yang, L., Wu, Y., Yue, Q., & Ma, Y. (2024). Working together: An RACM model of policy implementation capacity. Global Public Policy and Governance, 4(1), 56–85. https://doi.org/10.1007/s43508-024-00087-4

Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). SAGE Publications

Downloads

Published

2026-10-07

How to Cite

Reynol Sandy, T., & Tina Miniawati Barusman. (2026). Sah tetapi Tidak Diterima: Legitimacy Gap dalam Penertiban Aset Daerah di Provinsi Lampung. SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan Hukum, 5(5), 3327–3341. https://doi.org/10.55681/seikat.v5i5.3904