Paradoks Pengakuan melalui Pendaftaran: Kedudukan Hak Komunal Masyarakat Adat dan Problematika Normatifnya dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.55681/armada.v4i10.4146Keywords:
Hak Komunal, Hak Ulayat, Masyarakat Hukum Adat, Pendaftaran Tanah, Pengakuan KonstitusionalAbstract
Pengakuan negara terhadap hak komunal masyarakat adat di Indonesia mengalami perkembangan melalui kebijakan pendaftaran tanah ulayat sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 14 Tahun 2024. Artikel ini bertujuan menganalisis paradoks pengakuan melalui pendaftaran (recognition-through-registration paradox) terhadap perlindungan hak komunal masyarakat adat. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pendaftaran berpotensi mereduksi karakter komunal hak ulayat karena menerjemahkannya ke dalam kategori hak keperdataan nasional yang tidak sepenuhnya sesuai dengan sifat komunal masyarakat adat. Hak pengelolaan yang bersumber dari hak menguasai negara dan hak milik bersama yang tunduk pada logika kepemilikan individual berpotensi menyebabkan extinguishment by titling. Paradoks tersebut diperkuat oleh pengakuan bersyarat dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945, delegasi pengaturan melalui peraturan menteri, dan inkonsistensi subjek hukum. Artikel ini menawarkan desain alternatif berupa pengakuan deklaratif berbasis undang-undang, pemisahan fungsi administrasi dan konstitutif pendaftaran, serta pembentukan kategori hak sui generis bagi masyarakat adat.
Downloads
References
Arizona, Y., Wicaksono, M. T., & Vel, J. (2019). The role of indigeneity NGOs in the legal recognition of adat communities and customary forests in Indonesia. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 20(5), 487–506. https://doi.org/10.1080/14442213.2019.1670241
Arwana, Y. C., & Arifin, R. (2019). Jalur mediasi dalam penyelesaian sengketa pertanahan sebagai dorongan pemenuhan hak asasi manusia. Jambura Law Review, 1(2), 220. https://doi.org/10.33756/jalrev.v1i2.2399
Avonius, L. (2003). Reforming adat: Indonesian indigenous people in the era of Reformasi. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 4(1–2), 123–142.
Bakker, L. (2008). “Can we get hak ulayat?” Land and community in Pasir and Nunukan, East Kalimantan. University of California, eScholarship.
Bedner, A. (2016). Indonesian land law: Integration at last? And for whom? In J. McCarthy & K. Robinson (Eds.), Land and development in Indonesia: Searching for the people’s sovereignty (pp. 63–88). ISEAS Publishing.
Bedner, A. W., & Arizona, Y. (2019). Adat in Indonesian land law: A promise for the future or a dead end? The Asia Pacific Journal of Anthropology, 20(5), 416–434. https://doi.org/10.1080/14442213.2019.1670246
Bedner, A., & van Huis, S. (2008). The return of the native in Indonesian law: Indigenous communities in Indonesian legislation. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 164(2–3), 165–193.
Benda-Beckmann, F. von. (2002). Who’s afraid of legal pluralism? The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 34(47), 37–82. https://doi.org/10.1080/07329113.2002.10756563
Benda-Beckmann, K. von. (2013). Political and legal transformations of an Indonesian polity: The Nagari from colonisation to decentralisation. Cambridge University Press.
Griffiths, J. (1986). What is legal pluralism? The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 18(24), 1–55. https://doi.org/10.1080/07329113.1986.10756387
Harsono, B. (2007). Hukum agraria Indonesia: Sejarah pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, isi, dan pelaksanaannya. Djambatan.
Henley, D., & Davidson, J. S. (2007). Introduction: Radical conservatism—The protean politics of adat. In J. S. Davidson & D. Henley (Eds.), The revival of tradition in Indonesian politics: The deployment of adat from colonialism to indigenism (pp. 1–49). Routledge.
Kelsen, H. (1967). Pure theory of law (M. Knight, Trans.). University of California Press.
La’bi, J. M. A., Nur, S. S., & Lahae, K. (2021). Analisis hukum pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL) terhadap tanah Tongkonan. Mulawarman Law Review, 6(1), 24. https://doi.org/10.30872/mulrev.v6i1.525
Marwiyah, S., et al. (2023). The educational role of the Constitutional Court in compliance of Indonesian citizens. Law Reform, 19(1), 151. https://doi.org/10.14710/lr.v19i1.53971
Mochtar, Z. A. (2022). A notion of regulatory reform. Fiat Justisia: Jurnal Ilmu Hukum, 16(1), 75. https://doi.org/10.25041/fiatjustisia.v16no1.2431
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada dalam Kawasan Tertentu. (2015).
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2015. (2016).
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Administrasi Pertanahan dan Pendaftaran Tanah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. (2024).
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 18 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penatausahaan Tanah Ulayat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat. (2019).
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. (1999).
Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 35/PUU-X/2012 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. (2012).
Radbruch, G. (2006). Statutory lawlessness and supra-statutory law (1946) (B. L. Paulson & S. L. Paulson, Trans.). Oxford Journal of Legal Studies, 26(1), 1–11. https://doi.org/10.1093/ojls/gqi041
Ramadhani, W., & Safitri, I. (2019). Implikasi pemberdayaan lembaga adat sebagai alternatif dalam penyelesaian sengketa pertanahan di Aceh. Jurnal Hukum Samudra Keadilan, 14(2), 220. https://doi.org/10.33059/jhsk.v14i2.1545
Salam, S. (2016). Kepastian hukum penerbitan sertifikat hak komunal sebagai pelaksanaan reforma agraria. Jurnal Cita Hukum, 4(2), 15. https://doi.org/10.15408/jch.v4i2.3192
Sihabudin, S., Qurbani, I. D., & Hilmy, M. I. (2023). Progressive realization in mining activities for indigenous community development. Russian Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences, 134(2), 83. https://doi.org/10.18551/rjoas.2023-02.09
Simanjuntak, F. A. (2025). Pendaftaran tanah di atas tanah ulayat: Dilema antara hukum negara dan hukum adat. AL-DALIL Jurnal Ilmu Sosial Politik dan Hukum, 3(2), 1–10. https://doi.org/10.58707/aldalil.v3i2.1329
Simarmata, R. (2023). Tumpang tindih penguasaan tanah di wilayah Ibu Kota Negara “Nusantara.” Veritas et Justitia, 9(1), 1–33.
Simarmata, R. (2024). The current updates of the progresses and the challenges of recognition of customary forests in Indonesia. Jurnal Ilmu Kehutanan, 18(2), 142–152.
Sumardjono, M. S. W. (2001). Kebijakan pertanahan antara regulasi dan implementasi (Edisi revisi). Penerbit Buku Kompas.
Sumardjono, M. S. W. (2024, June 19). Antara pengadministrasian tanah dan pendaftaran tanah ulayat MHA. Kompas.
Taylor, C. (1994). The politics of recognition. In A. Gutmann (Ed.), Multiculturalism: Examining the politics of recognition (pp. 25–73). Princeton University Press.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. (1960). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. (2014).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. (2009).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. (1999).
Vel, J., Zakaria, R. Y., & Bedner, A. (2017). Law-making as a strategy for change: Indonesia’s New Village Law. Asian Journal of Law and Society, 4(2), 447–471. https://doi.org/10.1017/als.2017.21
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





