ANALISIS FIQH AL-USRAH TERHADAP KESEPAKATAN CHILDFREE DALAM PERKAWINAN: STUDI PANDANGAN ANGGOTA KOMISI FATWA MUI KOTA MEDAN
DOI:
https://doi.org/10.55681/seikat.v5i4.3937Keywords:
Childfree, Fiqh Al-Usrah, Hifdz An-Nasl, Perjanjian Perkawinan, MUI Kota MedanAbstract
Fenomena kesepakatan childfree (pilihan untuk tidak memiliki keturunan) dalam perkawinan semakin menguat di Indonesia, tercermin dari data SUSENAS 2024/2025 yang mencatat prevalensi sebesar 8,2 persen atau sekitar 71 ribu perempuan usia subur menyatakan tidak menginginkan anak, didorong pula oleh diseminasi wacana melalui akun media sosial seperti @wearechildfree dan @ChildfreeID serta narasi sejumlah figur publik. Fenomena ini menimbulkan ketegangan antara kebebasan berkontrak dalam perjanjian pra-nikah sebagaimana dijamin Pasal 29 UU No. 1 Tahun 1974 juncto Putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015, dengan konsep mitsaqan ghalizhan dan Maqashid Syariah, khususnya Hifdz an-Nasl (perlindungan keturunan). Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan kesepakatan childfree menurut Fiqh Al-Usrah berdasarkan pandangan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan. Penelitian menggunakan metode yuridis-empiris dengan pendekatan normatif-sosiologis, memadukan studi dokumen (Al-Qur'an, Hadis, kitab fiqh klasik dan kontemporer, peraturan perundang-undangan) dengan wawancara mendalam serta teknik vignette berupa penyajian skenario kasus hipotetis kepada informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komisi Fatwa MUI Kota Medan memandang kesepakatan childfree yang didasari motif hedonistik atau gaya hidup semata sebagai perbuatan yang pada asalnya terlarang karena bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan dan muqtadha al-aqdi, sehingga klausul demikian dikategorikan sebagai syarthun fasid. Pengecualian hanya diberikan pada kondisi darurat medis atau psikologis ekstrem yang dibuktikan secara klinis (tibb qathi'). Studi ini menegaskan bahwa klausul childfree permanen dalam perjanjian perkawinan berpotensi batal demi hukum karena melanggar Pasal 47 KHI dan Pasal 1337 KUHPerdata, serta berimplikasi pada potensi shiqaq yang dapat menjadi alasan perceraian.
Downloads
References
Al-Ghazali, I. (1998). Ihya ulumiddin (Vol. 2). Dar al-Kutub al-'Ilmiyah.
Al-Shatibi, I. (1997). Al-Muwafaqat fi usul al-shari'ah. Dar Ibn 'Affan.
Al-Zuhaili, W. (1986). Ushul fiqh al-Islamiy. Dar al-Fikr.
Alqusni, T., Nurjanah, S., & Siradjudin, A. (2024). Childfree dalam perkawinan: Tinjauan kritis dalam perspektif maqashid syariah. Asasi: Journal of Islamic Family Law, 5(1), 37–63. https://doi.org/10.36420/asasi.v5i1.701
Az-Zuhaili, W. (2011). Al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu (Vol. 9). Dar al-Fikr.
Badan Pusat Statistik. (2025). Survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS) 2024/2025. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
Cook, R. J., Dickens, B. M., & Syed, S. (2023). Reproductive health and human rights: Integrating medicine, ethics, and law (2nd ed.). Oxford University Press.
Fadhilah, E. (2022). Childfree dalam perspektif Islam. Al-Mawarid Jurnal Syariah dan Hukum, 3(2), 71–80. https://doi.org/10.20885/mawarid.vol3.iss2.art1
Fauzan, A. (2022). Childfree perspektif hukum Islam. As-Salam: Jurnal Studi Hukum Islam dan Pendidikan, 11(1), 1–10. https://doi.org/10.51226/assalam.v11i1.338
Hasan, I. P. (2025). Childfree choice in the dialectic between human rights and Islamic law: Navigating bodily autonomy and hifz al-nasl. Maqashid: Jurnal Hukum Islam, 8(1), 114–134. https://doi.org/10.35897/maqashid.v8i1.2073
Ibnu Qudamah. (1997). Al-Mughni (Vol. 7). Maktabah al-Qahirah.
Indonesia. (1974). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Indonesia. (1991). Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Indonesia. (2019). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2016). Putusan Nomor 69/PUU-XIII/2015 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Munawarudin, A. (2023). Childfree dalam pandangan maqashid syariah. Yustisi, 10(2), 119–137. https://doi.org/10.32832/yustisi.v10i2.14330
Rojas Betancur, H. M., Quirama, A. H., & Rubio, C. R. (2023). Voluntary childlessness in a society reluctant to change. Sociology Compass, 17(2), Article e13040. https://doi.org/10.1111/soc4.13040
Salim, H. S., & Nurbani, E. S. (2022). Penerapan teori hukum pada penelitian tesis dan disertasi (Edisi revisi). Rajawali Pers.
Saogi, A., Mesraini, & Saputa, M. R. (2025). Tinjauan maqāṣid al-syarī'ah al-Syāṭibī terhadap childfree dalam perkawinan. Recht Studiosum Law Review, 4(2), 1–15.
Syarafuddin, M., & Fauzi, A. (2023). Childfree, millennial marriage disorientation, and Islamic family law perspectives. Communications in Humanities and Social Sciences, 3(2), 77–84. https://doi.org/10.21924/chss.3.2.2023.59
Taufiqurohman, & Fauziah, N. (2023). The evaluation of maqāṣid asy-syarī'ah on discourses of the Islamic family law. El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga, 6(1), 81–100.
United Nations. (2024). World fertility report 2024. United Nations Department of Economic and Social Affairs.
United Nations Population Fund. (2022). State of world population 2022: Seeing the unseen—The case for action in the neglected crisis of unintended pregnancy. UNFPA. https://www.unfpa.org/swp2022
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Wahda Hilwani Damanik, Sukiati, Imam Yazid

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








