Implementasi Pendidikan Karakter Religius Berbasis Budaya Sekolah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima

Authors

  • Arfahun Susilawati Universitas Muhammadiyah Bima, Indonesia
  • Abdussahid Universitas Muhammadiyah Bima, Indonesia
  • Sri Jamilah Universitas Muhammadiyah Bima, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.55681/armada.v4i6.2594

Keywords:

Pendidikan Karakter, Karakter Religius, Budaya Sekolah

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses implementasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius diterapkan melalui tiga strategi utama, yaitu pengintegrasian nilai-nilai religius dalam kurikulum dan pembelajaran, pembiasaan kegiatan keagamaan rutin seperti mushafahah, doa bersama, shalat Dhuha, shalat Dhuhur berjamaah, pembacaan Asmaul Husna, dan Jumat religius, serta keteladanan yang ditunjukkan oleh guru dan staf madrasah. Faktor pendukung pelaksanaan program ini meliputi komitmen kepala madrasah, keterlibatan aktif seluruh guru dan staf, serta dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar. Sementara itu, hambatan yang dihadapi mencakup keterbatasan sarana dan prasarana, pengaruh lingkungan eksternal seperti media elektronik dan pergaulan di luar sekolah, serta terbatasnya waktu karena padatnya kurikulum. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari telah berlangsung dengan baik, meskipun masih memerlukan penguatan dalam menghadapi berbagai kendala yang ada.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Implementasi Pendidikan Karakter Religius Berbasis Budaya Sekolah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima

Arfahun Susilawati1*, Abdussahid2, Sri Jamilah3

-3Universitas Muhammadiyah Bima, Indonesia

Corresponding Author’s e-mail : arfahunsusilawati7@gmail.com

Abstract : This study aims to describe the implementation of school culture-based religious character education at MIS Yasim Sari in Bima Regency and to identify the factors that support and hinder its implementation. This research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and document study. The findings show that religious character education was implemented through three main strategies: integrating religious values into the curriculum and learning process; habituating routine religious activities, such as mushafahah, collective prayer, Dhuha prayer, congregational Dhuhur prayer, the recitation of Asmaul Husna, and religious Friday activities; and providing role models through the attitudes and behavior of teachers and madrasah staff. The supporting factors in the implementation of this program include the commitment of the madrasah principal, the active involvement of all teachers and staff, and support from parents and the surrounding community. Meanwhile, the obstacles encountered include limited facilities and infrastructure, external environmental influences such as electronic media and peer interaction outside school, and limited time due to the density of the curriculum. Therefore, this study concludes that the implementation of school culture-based religious character education at MIS Yasim Sari has been carried out effectively, although further strengthening is still needed to address the existing challenges.

Keywords : Character Education, Religious Character, School Culture.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses implementasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius diterapkan melalui tiga strategi utama, yaitu pengintegrasian nilai-nilai religius dalam kurikulum dan pembelajaran, pembiasaan kegiatan keagamaan rutin seperti mushafahah, doa bersama, shalat Dhuha, shalat Dhuhur berjamaah, pembacaan Asmaul Husna, dan Jumat religius, serta keteladanan yang ditunjukkan oleh guru dan staf madrasah. Faktor pendukung pelaksanaan program ini meliputi komitmen kepala madrasah, keterlibatan aktif seluruh guru dan staf, serta dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar. Sementara itu, hambatan yang dihadapi mencakup keterbatasan sarana dan prasarana, pengaruh lingkungan eksternal seperti media elektronik dan pergaulan di luar sekolah, serta terbatasnya waktu karena padatnya kurikulum. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari telah berlangsung dengan baik, meskipun masih memerlukan penguatan dalam menghadapi berbagai kendala yang ada.

Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Karakter Religius, Budaya Sekolah

e-ISSN: 2964-2981

ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin

https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/armada

Vol. 04, No. 06 Juni, 2026

Page: 1778-1791

DOI:

https://doi.org/10.55681/armada.v4i6.2594

Article History:

Received: April 27, 2026

Revised: Mei 10, 2026

Accepted: Juni 17, 2026

PENDAHULUAN

Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada persoalan karakter yangsangat serius dan perlu mendapat perhatian untuk dikaji melalui penelitian. Pergeseran orientasi kepribadian yang mengarah pada berbagai perilaku moral sudah demikian jelas dan nampak terjadi ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Berbagai tindak kenakalan anak dan remaja seperti tawuran, menyalahgunakan narkotika, membolos, dan kenakalan-kenakalan lain serta banyak tindakan kriminal dapat dengan mudah dijumpai melalui tayangan televisi maupun secara langsung. Penelitian ini mengambil fokus pada karakterreligius. Religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Nilai religius merupakan suatu bentuk hubungan manusia dengan penciptanya melalui ajaran agama yang sudah terinternalisasi dalam diri seseorang dan tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari (Shoimah, 2023).

Pendidikan merupakan kunci pembuka ke arah kemajuan suatu bangsa, pendidikan yang maju dan kuat akan mempercepat terjadinya perubahan sosial, dan pendidikan yang mundur akan kontra produktif terhadap jalannya proses perubahan sosial, bahkan dapat menimbulkan ketidakharmonisan tatanan sosial (Duryat, 2021). Pendidikan di Indonesia secara umum memiliki tiga persoalan utama yakni finansial, administratif dan kultural. Jika ketiga permasalahan ini dapat diminimalisir, maka upaya mewujudkan cita-cita nasional akan dapat di lakukan. Karena eksistensi pendidikan pada dasarnya adalah untuk membangun pribadi manusia terdidik, namun demikian pendidikan itu akan menjadi lebih fungsional, apabila berbagai macam persoalan penghambat pendidikan ditiadakan (Andriani, 2022). Karakter religius di lingkungan madrasah atau pendidikan lainnnya, harus tercermin dalam praktik kehidupan sehari-hari semua warga madrasah yang meliputi karyawan, guru, para siswa, dan kepala madrasah (Murtafiah, 2021).

Secara etimologi karakter berasal dari Bahasa Latin character, yang berarti watak, tabiat, sifat, kejiwaan, budi pekerti, kepribadian dan akhlak. Secara terminologi, karakter adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, hukum, tatakrama, budaya dan adat istiadat (Nurulhaq et al., 2021). Sedangkan, kata religius dalam KBBI berarti bersifat religi atau keagamaan. Karakter religius merupakan upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai religius, sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil (Basri et al., 2023). Dengan memiliki karakter religius, hidup seseorang akan terarah dan terbimbing pada kehidupan yang baik. Dengan demikian, pembentukan karakter religius adalah hasil usaha dalam mendidik dan melatih dengan sungguh-sungguh terhadap berbagai potensi rohaniah yang terdapat dalam diri manusia.

Karakter religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam menjalankan ajaran agama, yang menjadi kunci terwujudnya kehidupan yang damai. Dengan demikian, proses pendidikan karakter religius atau pendidikan akhlak harus dianggap sebagai usaha yang disadari dan terencana, bukan berlangsung secara kebetulan. Internalisasi karakter religius adalah usaha untuk memahami nilai-nilai agama supaya menjadi bagian yang melekat dalam diri setiap individu dan menciptakan individu yang memiliki karakter dan moral sesuai dengan ajaran agama. Pendidikan karakter di Indonesia menghadirkan semangat baru yang penuh optimisme untuk memperkuat karakter bangsa yang berkualitas. Oleh karena itu, konsep pendidikan karakter perlu diambil sikap yang jelas, dengan menekankan bahwa karakter seseorang dapat dibentuk melalui pendidikan (Isnaini, 2024).

Ciri-ciri karakter religius adalah dimana seseorang akan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, senang menuntut ilmu, menjaga kesehatannya, meningkatkan kemampuan dan keterampilannya, beramal shaleh, bermusyawarah, dan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Mereka yang memiliki sifat-sifat ini akan berhati-hati dan mempertimbangkan dengan cermat saat melakukan suatu kegiatan. Karena tidak hanya bertanggung jawab di hadapan manusia, tetapi juga dihadapan Allah, Pencipta semua makhluk. Karakter religius akan menjadikan manusia takut dan tunduk pada sang pencipta. Menyebabkan seseorang akan berusaha dengan penuh keyakinan untuk menjauhi segala larangan dari Tuhannya, serta berusaha untuk menjalankan segala hal yang diperintahkan dengan penuh keikhlasan dan penghayatan (Ambarwati et al., 2023).

MIS Yasim Sari yang berada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, merupakan madrasah yang terus berupaya menerapkan pendidikan karakter religius melalui budaya sekolah. Kondisi sosial masyarakat Kabupaten Bima yang mayoritas beragama Islam dan menjunjung nilai-nilai religius menjadi faktor pendukung dalam penguatan nilai keislaman di lingkungan pendidikan. Meskipun demikian, penerapan pendidikan karakter di wilayah ini tetap menghadapi tantangan, terutama karena kondisi geografis daerah kepulauan serta keterbatasan sumber daya yang memengaruhi pelaksanaan kebijakan pendidikan (Kurniawati & Setiawan, 2025). Dalam konteks tersebut, MIS Yasim Sari memperlihatkan komitmen yang kuat untuk terus melaksanakan program penguatan karakter religius. Upaya ini menjadi respons terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk peserta didik yang berakhlak mulia dan memiliki moralitas yang baik.

Penelitian Priatmoko, (2025) menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius di madrasah berbasis pesantren mencakup sejumlah nilai utama, yaitu kejujuran, kedisiplinan, kepedulian sosial, tanggung jawab terhadap lingkungan, serta kecintaan dalam menjalankan ibadah. Temuan tersebut sejalan dengan kondisi MIS Yasim Sari yang, meskipun tidak secara resmi berstatus sebagai pesantren, tetap menerapkan pola pembinaan karakter secara intensif sebagaimana lazim dijumpai dalam lingkungan pesantren. Di sisi lain, penelitian Haeriyyah dkk. (2025) membuktikan bahwa pengintegrasian nilai-nilai Islam, seperti tauhid, akhlak, ibadah, dan muamalah dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan karakter peserta didik, terutama dalam aspek kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi secara signifikan (Haeriyyah, 2025). Integrasi tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari. Pendekatan ini berperan sebagai fondasi utama dalam menanamkan nilai-nilai religius melalui berbagai aktivitas dan kebiasaan yang berlangsung di lingkungan madrasah.

Studi Mu’tazim, (2024) mengenai penguatan karakter religius melalui budaya sekolah di Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Arifin Jember menemukan bahwa kegiatan seperti apel pagi, mushafahah, doa bersama, pembacaan surah Al-Waqi’ah, shalat Dhuha, dan istighosah dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk serta memperkuat karakter religius peserta didik. Temuan tersebut memberikan contoh nyata bahwa budaya religius dapat diterapkan melalui kegiatan yang tersusun secara sistematis dan terprogram. Sejalan dengan itu, penelitian Tihurua, (2025) di MI Al Fattah Kota Malang menegaskan bahwa pembacaan Asmaul Husna bersama setelah apel pagi serta program baca tulis Al-Qur’an menjadi ciri khas madrasah yang membedakannya dari sekolah umum dalam pengembangan karakter religius peserta didik.

Kajian mengenai pendidikan karakter religius di madrasah turut menegaskan pentingnya kepemimpinan kepala sekolah. Sari dkk. (2025) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki peran utama sebagai penggagas sekaligus pengarah dalam proses perencanaan, pelaksanaan, supervisi, serta evaluasi program penguatan karakter religius. Kepemimpinan yang memadukan pendekatan transformasional dan spiritual menjadi salah satu penentu utama keberhasilan penerapan budaya religius di sekolah. Walaupun kajian mengenai pendidikan karakter religius di madrasah telah banyak dilakukan, masih terdapat celah penelitian pada konteks wilayah Indonesia Timur, khususnya Kabupaten Bima yang memiliki kekhasan sosiokultural tersendiri. Sebagian besar studi sebelumnya lebih banyak menitikberatkan pada madrasah di wilayah Jawa atau Sumatera, yang umumnya memiliki infrastruktur serta akses terhadap sumber daya pendidikan yang lebih memadai. Penelitian di wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Barat memiliki dinamika tersendiri, terutama berkaitan dengan keterbatasan akses, ketersediaan tenaga pendidik, serta penyesuaian program dengan kondisi lokal.

Oleh karena itu, kebaruan penelitian ini terletak pada kajian mengenai penerapan pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di madrasah yang berada dalam situasi terbatas, tetapi tetap memiliki komitmen kuat dalam memperkuat karakter peserta didik. Temuan observasi awal ini menunjukkan bahwa MIS Yasim Sari telah memiliki kesadaran dan komitmen untuk mengimplementasikan pendidikan karakter religius melalui budaya sekolah, meskipun masih menghadapi berbagai keterbatasan. Hal ini sejalan dengan temuan Rusli (2025) bahwa implementasi pendidikan karakter religius di sekolah dasar membutuhkan kebijakan sekolah yang komprehensif, seperti program tahfidz, puasa sunnah, dan shalat berjamaah, yang berkontribusi positif terhadap pengamalan ibadah siswa, namun juga dihadapkan pada faktor penghambat seperti keterbatasan sarana prasarana, keragaman karakter siswa, dan pengaruh lingkungan luar.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima, sekaligus mengidentifikasi berbagai faktor yang mendukung maupun menghambat proses implementasinya. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas kajian keilmuan mengenai pendidikan karakter religius di madrasah, terutama melalui perspektif budaya sekolah. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan rujukan bagi madrasah lain dalam mengembangkan program penguatan karakter religius yang serupa. Selain itu, temuan penelitian ini juga diharapkan memberi masukan bagi para pengambil kebijakan dalam merancang program pendidikan karakter yang lebih kontekstual, adaptif, dan sesuai dengan kondisi daerah kepulauan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan tersebut digunakan karena dapat membantu peneliti memahami secara mendalam pelaksanaan pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah dalam situasi alamiah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 di MIS Yasim Sari yang berlokasi di Kecamatan [nama kecamatan], Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Melalui pendekatan ini, data yang diperoleh diharapkan mampu menggambarkan secara utuh praktik, proses, serta konteks pelaksanaan pendidikan karakter religius di lingkungan madrasah tersebut. Sumber data dalam penelitian ini mencakup data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan yang ditentukan secara purposive sampling, yaitu Kepala Madrasah, Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum dan Kesiswaan, guru kelas, guru Pendidikan Agama Islam, serta perwakilan peserta didik kelas IV, V, dan VI. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan berbagai kegiatan budaya religius di lingkungan madrasah.

Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi terhadap berbagai dokumen pendukung. Dokumen tersebut meliputi perangkat pembelajaran, jurnal kegiatan keagamaan, foto-foto kegiatan, serta profil madrasah. Seluruh sumber data ini digunakan untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai implementasi pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga metode utama. Pertama, wawancara semi-terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun berdasarkan indikator pendidikan karakter religius dan budaya sekolah. Kedua, observasi non-partisipan terhadap kegiatan rutin, kegiatan terprogram, serta kegiatan spontan yang menunjukkan praktik budaya religius di lingkungan madrasah. Ketiga, dokumentasi digunakan untuk menghimpun bukti fisik terkait pelaksanaan program pendidikan karakter religius. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, yang didukung oleh lembar observasi, pedoman wawancara, dan catatan lapangan sebagai alat bantu dalam proses pengumpulan data.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup tiga tahapan utama, yaitu kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kondensasi data dilakukan dengan menyeleksi, memfokuskan, menyederhanakan, serta mentransformasikan data mentah yang diperoleh dari lapangan. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk teks naratif, matriks, dan bagan agar lebih mudah dipahami serta dianalisis. Penarikan kesimpulan dilakukan secara berkelanjutan selama proses penelitian berlangsung, dengan tetap membuka kemungkinan terhadap munculnya temuan baru. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yaitu membandingkan informasi dari berbagai informan, serta triangulasi teknik dengan membandingkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

MIS Yasim Sari adalah lembaga pendidikan dasar Islam yang berada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Madrasah ini memiliki visi untuk mewujudkan peserta didik yang beriman, bertakwa, berprestasi, dan berakhlak mulia, serta menjalankan misi penguatan nilai-nilai keislaman dalam seluruh aktivitas kehidupan sekolah. Berdasarkan hasil observasi, lingkungan MIS Yasim Sari didukung oleh fasilitas dasar berupa ruang kelas, mushola, dan lapangan upacara. Meskipun fasilitas tersebut masih sederhana, kondisinya terawat dengan baik dan mendukung kegiatan pembelajaran maupun pembiasaan religius. Jumlah peserta didik di madrasah ini sebanyak 187 orang yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI, dengan dukungan 15 guru dan 3 staf tata usaha.

Implementasi Pendidikan Karakter Religius Berbasis Budaya Sekolah

Hasil wawancara dengan Kepala MIS Yasim Sari, Bapak Bdul Hafid, pada 23 Maret 2026 menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter religius diawali melalui tahap perencanaan yang dimuat dalam Kurikulum Merdeka Belajar dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam praktiknya, setiap guru diarahkan untuk mengintegrasikan nilai-nilai religius ke dalam seluruh mata pelajaran, bukan hanya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Hasil observasi terhadap RPP yang digunakan guru juga memperlihatkan adanya bagian khusus yang memuat penguatan karakter. Nilai-nilai yang ditekankan meliputi karakter religius, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab, sehingga pembentukan karakter peserta didik dapat berlangsung secara terencana dalam proses pembelajaran.

Guru kelas IV, Ibu Siti Sanatin, dalam wawancara pada 23 Maret 2026 menjelaskan bahwa pembelajaran tematik selalu diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Selain itu, ia juga menyisipkan pesan-pesan moral keagamaan yang sesuai dengan materi pembelajaran, termasuk memberikan nasihat spiritual ketika membahas fenomena alam maupun peristiwa sosial. Guru Pendidikan Agama Islam, Bapak AH, pada wawancara di tanggal yang sama menambahkan bahwa pembelajaran PAI tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan tentang ajaran Islam. Pembelajaran lebih ditekankan pada pembiasaan praktik ibadah, seperti pelaksanaan wudhu yang benar, hafalan surat-surat pendek, serta pemahaman makna ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil observasi di MIS Yasim Sari memperlihatkan bahwa kegiatan religius rutin dilaksanakan secara konsisten. Setiap pagi sebelum masuk kelas, seluruh peserta didik melakukan mushafahah dengan guru-guru yang menyambut mereka di pintu gerbang madrasah. Berdasarkan pengamatan peneliti, kegiatan ini mampu membangun kedekatan emosional antara guru dan peserta didik sekaligus menanamkan sikap hormat kepada guru. Pada pukul 07.30 WITA, bel masuk dibunyikan dan peserta didik menuju kelas masing-masing. Kegiatan pembelajaran diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua kelas sebagai bagian dari pembiasaan religius di lingkungan madrasah.

Kegiatan rutin lain yang terlihat adalah pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah pada pukul 09.00 WITA bagi peserta didik kelas III sampai VI. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergiliran antar kelas di mushola madrasah yang berukuran 6 x 8 meter. Meskipun ruangannya terbatas, pelaksanaan shalat Dhuha tetap berjalan sebagai bagian dari pembiasaan ibadah di lingkungan madrasah. Hasil wawancara dengan AN, salah satu peserta didik kelas V, menunjukkan bahwa ia merasa senang mengikuti shalat Dhuha di sekolah karena dapat melaksanakannya bersama teman-teman. Sementara itu, RA dari kelas VI menyampaikan bahwa kebiasaan shalat Dhuha di sekolah membuatnya lebih terbiasa menjalankan shalat sunnah ketika berada di rumah.

Tabel 1. Jadwal Kegiatan Keagamaan Rutin di MIS Yasim Sari

No Jenis Kegiatan Waktu pelaksanaan Peserta

Mushafahah 07.15-07.25 Seluruh peserta didik

Doa bersama sebelum belajar 07.30-07.35 Perkelas

Pembacaan asmaul husna 07.35-07.45 Kelas I-IV (bergilir)

Shalat Dhuha berjamaah 09.00-09.15 Kelas III-VI

Shalat Dhuhur Berjemaah 12.00-12.30 Kelas III-IV dan Guru

Kultum selama 7 menit 12.30-12.40 Bergilir per kelas

Doa bersama sebelum pulang 13.00-13.05 Seluruh peserta didik

Sumber: Observasi di MIS Yasim Sari (2026)

Kegiatan Jumat religius menjadi salah satu program unggulan di MIS Yasim Sari. Berdasarkan wawancara dengan Wakil Kepala Madrasah bidang Kesiswaan, Ibu NF, setiap hari Jumat madrasah melaksanakan pembacaan surat Yasin bersama yang kemudian dilanjutkan dengan tausiah oleh guru yang bertugas secara bergiliran. Program ini diikuti oleh seluruh peserta didik kelas IV, V, dan VI serta para guru. Dokumentasi foto yang diperoleh peneliti juga memperlihatkan adanya keterlibatan aktif peserta didik dalam mengikuti rangkaian kegiatan Jumat religius tersebut. Hasil observasi memperlihatkan bahwa keteladanan merupakan strategi utama dalam pembentukan karakter religius di MIS Yasim Sari. Para guru tampak menunjukkan perilaku yang baik melalui kedisiplinan dalam mengajar, berpakaian rapi dan sopan sesuai ketentuan, serta menggunakan tutur kata yang santun ketika berinteraksi dengan peserta didik. Guru laki-laki terbiasa mengenakan peci di lingkungan madrasah, sedangkan guru perempuan menggunakan jilbab yang menutup aurat dengan baik. Kepala madrasah, Bapak MA, menjelaskan bahwa penampilan guru yang mencerminkan nilai-nilai Islami merupakan bagian dari budaya sekolah yang tidak tertulis, tetapi telah menjadi kesepakatan bersama di lingkungan madrasah.

Wawancara dengan beberapa peserta didik memperkuat temuan tersebut. FN, peserta didik kelas VI, menyampaikan bahwa ia merasa terinspirasi oleh gurunya yang selalu melaksanakan shalat tepat waktu dan sering mengajaknya untuk shalat berjamaah di mushola. Hal serupa disampaikan oleh DA, peserta didik kelas V, yang mengaku mulai terbiasa mengucapkan salam ketika masuk rumah. Kebiasaan tersebut muncul karena ia sering melihat gurunya mengucapkan salam setiap kali memasuki kelas. MIS Yasim Sari memiliki sejumlah kegiatan ekstrakurikuler yang berperan dalam memperkuat karakter religius peserta didik. Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh, kegiatan tersebut meliputi BTQ atau Baca Tulis Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap hari Selasa dan Kamis, serta hadroh yang dilatih setiap hari Sabtu. Selain itu, madrasah juga menyelenggarakan praktik ibadah setiap bulan dan memperingati Hari Besar Islam, seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan Tahun Baru Hijriyah. Berbagai kegiatan ini menjadi sarana pendukung dalam membiasakan peserta didik memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai keagamaan di lingkungan madrasah.

Hasil wawancara dengan pembina ekstrakurikuler BTQ, Ibu S, menunjukkan bahwa program BTQ diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, khususnya bagi peserta didik yang belum lancar. Dari total 187 peserta didik, sekitar 70% telah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, sedangkan 30% lainnya masih berada pada tahap pengenalan huruf hijaiyah. Program ini memperoleh dukungan penuh dari orang tua karena mereka berharap anak-anaknya dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Dengan demikian, BTQ menjadi salah satu kegiatan penting dalam memperkuat kemampuan keagamaan peserta didik di MIS Yasim Sari.

Faktor Pendukung Implementasi Pendidikan Karakter Religius

Hasil wawancara menunjukkan bahwa faktor pendukung utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter religius adalah kuatnya komitmen Kepala MIS Yasim Sari. Bapak Abdul Hafid menyampaikan bahwa penguatan karakter religius menjadi salah satu prioritas utama dalam pengembangan madrasah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengalokasian anggaran untuk kegiatan keagamaan, pemberian penghargaan kepada peserta didik yang berprestasi di bidang keagamaan, serta keterlibatan langsung kepala madrasah dalam berbagai kegiatan religius. Selain itu, kepala madrasah juga secara rutin memantau pelaksanaan shalat berjamaah dan memberikan teguran langsung apabila terdapat peserta didik atau guru yang kurang serius dalam mengikuti kegiatan tersebut.

Faktor pendukung berikutnya adalah keterlibatan aktif seluruh guru dan staf dalam menjalankan program pendidikan karakter religius. Hasil observasi menunjukkan bahwa seluruh guru ikut berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan, termasuk guru yang bukan berasal dari bidang Pendidikan Agama Islam. Mereka turut mengikuti shalat berjamaah, menjadi imam shalat, maupun menyampaikan kultum secara bergiliran. Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum, Ibu NH, dalam wawancara peneliti menjelaskan bahwa kebersamaan tersebut terbentuk karena adanya kesadaran bersama di lingkungan madrasah. Pembentukan karakter peserta didik tidak hanya dipandang sebagai tanggung jawab guru agama, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh warga madrasah.

Faktor pendukung ketiga adalah adanya dukungan positif dari orang tua peserta didik dan masyarakat sekitar. Berdasarkan wawancara jarak jauh melalui telepon dengan Ibu R, diketahui bahwa orang tua sangat mendukung program keagamaan yang dilaksanakan madrasah karena sejalan dengan nilai-nilai religius yang dibiasakan di rumah. Dukungan tersebut juga terlihat dari adanya inisiatif sebagian orang tua untuk memberikan sumbangan sukarela bagi operasional kegiatan keagamaan. Kepala madrasah menambahkan bahwa masyarakat sekitar turut memberikan apresiasi, salah satunya dengan memanfaatkan mushola madrasah untuk kegiatan keagamaan di luar jam sekolah.

Faktor Penghambat Implementasi Pendidikan Karakter Religius

Faktor penghambat utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Mushola madrasah yang berukuran 6 x 8 meter dinilai belum mampu menampung seluruh peserta didik kelas III sampai VI secara bersamaan, terutama saat pelaksanaan shalat Dhuhur berjamaah. Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta didik harus melaksanakan shalat dalam kondisi cukup padat, bahkan sebagian terpaksa berada di teras mushola karena keterbatasan kapasitas. Kepala madrasah dalam wawancara juga mengakui bahwa rencana pembangunan mushola sebenarnya telah disusun sejak dua tahun sebelumnya, tetapi belum dapat direalisasikan karena terkendala keterbatasan anggaran

Selain keterbatasan mushola, jumlah Al-Qur’an dan buku panduan praktik ibadah di madrasah juga masih belum mencukupi. Berdasarkan wawancara dengan guru BTQ, Ibu S, perbandingan ketersediaan Al-Qur’an dengan jumlah peserta didik adalah 1:3, sehingga satu Al-Qur’an harus digunakan secara bergantian oleh tiga peserta didik. Kondisi ini menjadi kendala dalam pelaksanaan program BTQ, terutama karena kegiatan membaca Al-Qur’an idealnya dilakukan secara individual agar kemampuan setiap peserta didik dapat dibimbing dan dievaluasi secara lebih optimal.

Faktor penghambat kedua berasal dari pengaruh lingkungan luar sekolah, khususnya pergaulan di luar madrasah dan tayangan media elektronik. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas VI, Ibu R, beberapa peserta didik yang kurang memperoleh pendampingan orang tua di rumah cenderung mudah terpengaruh oleh tontonan yang kurang mendidik. Pengaruh tersebut terlihat pada perubahan perilaku dan penggunaan bahasa peserta didik di lingkungan sekolah. Hal ini diperkuat oleh pernyataan RA, salah satu peserta didik, yang mengaku terkadang meniru gaya bicara dari tayangan YouTube yang ditontonnya di rumah. Meskipun menyadari bahwa gaya bicara tersebut kurang sopan, kebiasaan menonton tanpa pengawasan tetap memengaruhi cara berkomunikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor penghambat ketiga adalah terbatasnya waktu untuk menjalankan seluruh program yang telah direncanakan. Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum, Ibu NH, dalam wawancara peneliti menjelaskan bahwa padatnya kurikulum serta tuntutan pencapaian target pembelajaran akademik sering kali membuat kegiatan keagamaan belum dapat dilaksanakan secara optimal. Sebagai contoh, menjelang ujian semester, pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah kerap ditiadakan atau dipersingkat durasinya. Hal ini dilakukan karena peserta didik harus menyelesaikan materi pelajaran sesuai target pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pembahasan

Analisis Implementasi Pendidikan Karakter Religius Berbasis Budaya Sekolah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari diterapkan melalui tiga strategi pokok, yaitu integrasi dalam kurikulum, pembiasaan aktivitas keagamaan, dan keteladanan warga madrasah. Temuan ini selaras dengan kerangka teori Lickona yang menegaskan bahwa pendidikan karakter mencakup tiga aspek penting, yaitu mengetahui kebaikan, mencintai atau menghendaki kebaikan, serta melakukan kebaikan dalam kehidupan nyata (Priatmoko, 2025). Melalui integrasi kurikuler, peserta didik memperoleh pemahaman mengenai nilai-nilai religius sebagai bentuk knowing the good. Selanjutnya, pembiasaan kegiatan keagamaan membantu peserta didik menumbuhkan dorongan untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut atau desiring the good. Adapun keteladanan dari guru dan warga madrasah menjadi sarana bagi peserta didik untuk menerapkan nilai religius dalam perilaku nyata, yang mencerminkan aspek doing the good.

Temuan mengenai pengintegrasian nilai-nilai religius dalam proses pembelajaran di MIS Yasim Sari memperkuat hasil penelitian Priatmoko, (2025). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai religius, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial, dapat ditanamkan melalui berbagai mata pelajaran, bukan hanya pada pelajaran agama. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius tidak harus selalu dilaksanakan sebagai kegiatan terpisah dari proses pembelajaran. Sebaliknya, nilai-nilai religius dapat dan semestinya diintegrasikan dalam setiap pengalaman belajar peserta didik. Pendekatan integratif ini juga selaras dengan konsep adab menurut Al-Attas, yang memandang pendidikan sejati sebagai proses penanaman adab secara menyeluruh, utuh, dan tidak terpisah-pisah.

Bentuk kegiatan pembiasaan keagamaan yang diterapkan di MIS Yasim Sari, seperti mushafahah, doa bersama, shalat Dhuha dan Dhuhur berjamaah, serta pembacaan Asmaul Husna, menunjukkan kesamaan dengan hasil penelitian Mu’tazim, (2024) di MTs Nahdlatul Arifin Jember. Namun, terdapat perbedaan pada aspek variasi kegiatan yang dilaksanakan. MIS Yasim Sari belum secara rutin menerapkan kegiatan seperti pembacaan kitab kuning atau pembacaan surah-surah tertentu, misalnya surah Al-Waqi’ah, sebagaimana ditemukan pada madrasah tersebut. Perbedaan ini dapat dipahami karena adanya perbedaan jenjang pendidikan antara MI dan MTs, serta karakteristik peserta didik MI yang masih berada pada tahap pengenalan dasar terhadap nilai dan praktik keagamaan.

Penelitian ini juga menguatkan temuan Tihurua, (2025) yang menegaskan bahwa pembacaan Asmaul Husna merupakan salah satu bentuk budaya religius yang penting dalam lingkungan madrasah ibtidaiyah. Dalam perspektif teori pendidikan karakter Lickona, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas ritual, tetapi juga menjadi sarana pembentukan moral knowing, moral feeling, dan moral action. Melalui pembacaan Asmaul Husna secara rutin, peserta didik dikenalkan pada nilai-nilai ketuhanan, seperti kasih sayang, keadilan, kebijaksanaan, dan pengampunan, sehingga mereka tidak hanya memahami sifat-sifat Allah secara kognitif, tetapi juga diarahkan untuk meneladaninya dalam perilaku sehari-hari. Hal tersebut selaras dengan pandangan bahwa lingkungan yang bernuansa religius memberikan pengaruh penting terhadap tumbuhnya kesadaran beragama peserta didik. Melalui suasana sekolah yang mendukung nilai-nilai keislaman, peserta didik lebih mudah memahami, menghayati, dan membiasakan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari (Novitasari, 2025).

Peran keteladanan guru dalam membentuk karakter religius yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh yang kuat. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Lestari, (2025) yang menegaskan bahwa guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai figur teladan yang perilakunya menjadi acuan bagi peserta didik. Di MIS Yasim Sari, keteladanan guru tidak hanya tampak pada aspek lahiriah, seperti penggunaan pakaian Islami, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, antara lain disiplin waktu, santun dalam berbahasa, serta konsisten dalam menjalankan ibadah.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pembentukan karakter religius tidak dapat hanya mengandalkan penyampaian materi tentang nilai-nilai moral, tetapi perlu diperkuat melalui contoh nyata dalam kehidupan sekolah. Sejalan dengan teori belajar sosial Bandura, peserta didik membangun perilaku melalui proses mengamati, meniru, dan memodelkan perilaku dari lingkungan terdekatnya, terutama guru dan orang tua (Sundari, 2023). Dengan demikian, guru memiliki peran penting sebagai teladan hidup yang mencerminkan nilai-nilai religius dalam tindakan sehari-hari. Perilaku guru yang konsisten, santun, disiplin, dan taat beribadah menjadi media efektif dalam membantu peserta didik menginternalisasi nilai karakter religius secara lebih nyata dan berkelanjutan.

Penelitian Haeriyyah, (2025) tentang integrasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam program Kampus Mengajar di Makassar menunjukkan bahwa nilai tauhid, akhlak, ibadah, dan muamalah dapat ditanamkan melalui kegiatan ritual keagamaan, proyek berbasis komunitas, serta interaksi sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan karakter religius tidak hanya terbatas pada pelaksanaan ibadah formal, tetapi juga dapat diperkuat melalui aktivitas sosial yang menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan etika peserta didik terhadap lingkungan. Dalam konteks MIS Yasim Sari, temuan tersebut dapat dijadikan pijakan untuk mengembangkan program religius yang lebih sesuai dengan kebutuhan lingkungan madrasah, seperti bakti sosial, kerja bakti, gerakan berbagi, atau kegiatan kepedulian masyarakat yang dihubungkan dengan nilai-nilai Islam. Program semacam ini dapat memperluas makna pendidikan karakter religius, dari sekadar pembiasaan ibadah menuju penguatan kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Secara teoritis, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang menekankan keterpaduan antara iman, ilmu, dan amal. Dengan demikian, nilai religius tidak hanya dipahami sebagai ajaran normatif, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku nyata yang memberi manfaat bagi kehidupan sosial. Kajian terbaru juga menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Islam dapat dilakukan melalui pendekatan tematik, lintas disiplin, kontekstual, dan kolaboratif dalam proses pembelajaran (Najib et al., 2024).

Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi

Komitmen dan kepemimpinan kepala madrasah merupakan faktor pendukung yang paling menonjol dalam pelaksanaan pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari. Temuan ini selaras dengan penelitian Sari dkk. (2025) yang menegaskan bahwa kepala sekolah memiliki peran penting sebagai penggagas dan pengarah dalam proses perencanaan, pelaksanaan, supervisi, hingga evaluasi program penguatan karakter religius. Dalam konteks MIS Yasim Sari, kepala madrasah tidak hanya berperan sebagai pembuat kebijakan, tetapi juga terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan religius di lingkungan madrasah. Keterlibatan tersebut tampak melalui pemberian teladan nyata, pendampingan kegiatan keagamaan, serta pemantauan program secara berkelanjutan agar implementasi pendidikan karakter religius dapat berjalan secara konsisten dan efektif.

Gaya kepemimpinan yang menggabungkan pendekatan transformasional dan spiritual menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan program pendidikan karakter religius. Kepemimpinan transformasional tercermin dari kemampuan kepala madrasah dalam merumuskan visi, menggerakkan guru, serta membangun semangat bersama untuk memperkuat karakter religius peserta didik. Sementara itu, kepemimpinan spiritual tampak melalui keteladanan moral, konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan, serta pemaknaan aktivitas pendidikan sebagai bagian dari ibadah. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual kepala sekolah memiliki peran strategis dalam membangun budaya religius di sekolah. Peran ini diwujudkan melalui keteladanan, konsistensi nilai, serta internalisasi makna spiritual dalam praktik kepemimpinan sehari-hari. Dengan demikian, kepala madrasah tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin administratif, tetapi juga sebagai penggerak nilai dan teladan moral bagi seluruh warga madrasah (Indiarti, 2026).

Partisipasi aktif seluruh guru dan staf dalam kegiatan keagamaan merupakan faktor pendukung kedua yang berperan penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa penguatan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala madrasah atau guru Pendidikan Agama Islam, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga madrasah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Mu’tazim, (2024) yang menunjukkan bahwa penguatan karakter religius melalui budaya sekolah dapat berjalan efektif apabila didukung oleh kesadaran peserta didik dan partisipasi guru dalam berbagai kegiatan religius. Kegiatan tersebut meliputi apel pagi, mushafahah, doa bersama, shalat Dhuha, pembacaan Asmaul Husna, dan istighosah sebagai bentuk pembiasaan nilai-nilai keagamaan di lingkungan sekolah.

Di MIS Yasim Sari, pelaksanaan kegiatan keagamaan tidak hanya dibebankan kepada guru Pendidikan Agama Islam, tetapi melibatkan seluruh guru dan staf madrasah. Guru mata pelajaran umum juga ikut berperan dalam shalat berjamaah, penyampaian kultum, pendampingan kegiatan religius, serta pembiasaan nilai-nilai keislaman dalam aktivitas sekolah sehari-hari. Pola tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga madrasah. Hal ini sejalan dengan konsep whole school approach, yaitu pendekatan pendidikan karakter yang melibatkan seluruh komponen sekolah dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Kajian terbaru juga menegaskan bahwa keberhasilan budaya religius di sekolah sangat ditentukan oleh keterpaduan antara pembiasaan, keteladanan, motivasi, serta kerja sama sekolah, orang tua, dan masyarakat (Fajri & Maidatus, 2025).

Dukungan orang tua dan masyarakat merupakan salah satu faktor penting yang menunjang pelaksanaan pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari. Temuan ini sejalan dengan kajian pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang menegaskan bahwa keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran strategis dalam proses penanaman serta internalisasi nilai pada peserta didik. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa kerja sama antara madrasah dan orang tua dapat diwujudkan melalui komunikasi dua arah, pelibatan orang tua dalam kegiatan sekolah, penyelarasan nilai-nilai karakter antara lingkungan rumah dan madrasah, serta penguatan kebiasaan moral dalam keluarga. Dengan adanya dukungan tersebut, pendidikan karakter religius tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga berlanjut dalam kehidupan sehari-hari peserta didik di lingkungan keluarga dan masyarakat (Kibtiyah et al., 2025).

Dalam konteks Kabupaten Bima yang dikenal memiliki masyarakat religius, nilai-nilai keislaman telah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kondisi ini membuat program penguatan karakter religius yang dikembangkan madrasah memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Dengan demikian, dukungan orang tua, baik melalui keterlibatan langsung maupun kontribusi material, menjadi modal sosial yang penting bagi keberlanjutan program pendidikan karakter religius. Hal tersebut sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan karakter berbasis kearifan lokal membutuhkan sinergi antara sekolah, pendidik, orang tua, dan masyarakat. Kerja sama tersebut diperlukan agar program penguatan karakter dapat berjalan secara berkelanjutan, kontekstual, serta sesuai dengan nilai sosial dan budaya yang hidup di lingkungan peserta didik (Amalia, 2024).

Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi kendala utama dalam implementasi pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari. Temuan ini selaras dengan penelitian Mu’tazim, (2024) di MTs Nahdlatul Arifin yang menunjukkan bahwa fasilitas yang belum memadai dapat menghambat penguatan karakter religius berbasis budaya sekolah. Di MIS Yasim Sari, hambatan tersebut terlihat dari kapasitas mushola yang masih terbatas sehingga belum mampu menampung seluruh peserta didik ketika pelaksanaan shalat berjamaah. Selain itu, jumlah Al-Qur’an yang tersedia juga belum seimbang dengan jumlah peserta didik dalam program BTQ, sehingga proses pembelajaran membaca Al-Qur’an belum dapat berjalan secara optimal dan individual.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter religius tidak hanya bergantung pada komitmen seluruh warga madrasah, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Fasilitas sekolah menjadi unsur penting dalam menunjang proses pembelajaran, pembiasaan, serta pelaksanaan kegiatan keagamaan di lingkungan madrasah. Keterbatasan infrastruktur, seperti ruang ibadah, media pembelajaran, dan perlengkapan praktik, dapat mengurangi efektivitas pelaksanaan program pendidikan karakter religius. Situasi ini juga mencerminkan kondisi yang masih dihadapi banyak lembaga pendidikan di wilayah pedesaan, terpencil, dan kepulauan, yaitu keterbatasan akses serta ketimpangan fasilitas pendidikan (Rohman et al., 2025).

Pengaruh lingkungan eksternal, khususnya media elektronik dan pergaulan di luar sekolah, menjadi faktor penghambat kedua dalam pelaksanaan pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari. Temuan ini selaras dengan kajian tentang internalisasi nilai Aswaja yang menjelaskan bahwa era digital membawa tantangan baru dalam pembentukan karakter peserta didik. Hal ini terjadi karena peserta didik berhadapan dengan derasnya arus informasi, budaya populer, serta konten media yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai religius. Dalam konteks tersebut, nilai-nilai Aswaja seperti tawassuth atau sikap moderat, tawazun atau keseimbangan, tasamuh atau toleransi, dan i’tidal atau keadilan dipandang relevan sebagai benteng moral bagi peserta didik. Nilai-nilai tersebut dapat membantu peserta didik menyaring pengaruh budaya digital, membangun sikap bijak dalam bermedia, serta tetap menjaga perilaku yang sesuai dengan karakter religius (Syukron & Firdian, 2025).

Dalam konteks MIS Yasim Sari, tantangan tersebut terlihat dari terbatasnya kemampuan madrasah dalam mengawasi konten yang diakses peserta didik di luar lingkungan sekolah. Paparan terhadap tontonan digital yang tidak tersaring, termasuk konten yang kurang mendidik dan tidak sejalan dengan nilai-nilai keislaman, dapat memengaruhi perilaku, cara berbahasa, serta pola pergaulan peserta didik. Temuan ini diperkuat oleh kajian mengenai pembentukan karakter religius di era digital yang menegaskan bahwa media sosial, informasi yang tidak terverifikasi, dan budaya serba instan dapat melemahkan nilai moral serta spiritual peserta didik. Oleh karena itu, penguatan karakter religius perlu didukung oleh pendampingan guru di sekolah dan pengawasan orang tua di rumah agar peserta didik mampu menggunakan media digital secara bijak (Mollah, 2024).

Keterbatasan waktu akibat padatnya kurikulum turut menjadi salah satu hambatan dalam pelaksanaan pendidikan karakter religius di MIS Yasim Sari. Temuan ini selaras dengan penelitian mengenai implementasi Kurikulum As-Sunnah berbasis penguatan karakter religius, yang menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk mencapai target akademik, tetapi juga berkewajiban menanamkan dan memperkuat nilai-nilai spiritual peserta didik (Sari et al., 2025). Kondisi tersebut menuntut madrasah untuk mampu menyeimbangkan antara pencapaian aspek kognitif dan pembinaan karakter religius. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran akademik dan program keagamaan perlu dirancang secara proporsional agar keduanya dapat berjalan beriringan tanpa saling menghambat.

Dalam pelaksanaannya, MIS Yasim Sari menghadapi tantangan ketika kegiatan keagamaan harus diselaraskan dengan tuntutan akademik, terutama menjelang pelaksanaan ujian. Pada kondisi tertentu, kegiatan seperti shalat Dhuha berjamaah terpaksa dipersingkat atau bahkan ditiadakan agar peserta didik dapat menyelesaikan materi pelajaran sesuai target kurikulum. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan aspek afektif dan spiritual memerlukan waktu, konsistensi, serta pembiasaan yang berkelanjutan. Sementara itu, capaian kognitif sering kali lebih mudah diukur melalui target pembelajaran dan hasil ujian. Penelitian lain juga menegaskan bahwa terbatasnya waktu pembelajaran formal menjadi kendala dalam internalisasi nilai-nilai religius secara menyeluruh. Oleh karena itu, guru perlu memiliki kreativitas dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan ke dalam proses pembelajaran maupun aktivitas sekolah sehari-hari (Pitriati, 2025).

KESIMPULAN DAN SARAN

Implementasi pendidikan karakter religius berbasis budaya sekolah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima dilakukan melalui tiga strategi utama. Strategi tersebut meliputi integrasi nilai-nilai religius dalam kurikulum dan proses pembelajaran, pembiasaan kegiatan keagamaan secara rutin seperti mushafahah, doa bersama, shalat Dhuha dan Dhuhur berjamaah, serta pembacaan Asmaul Husna, dan keteladanan yang ditunjukkan oleh guru serta staf madrasah. Ketiga strategi ini saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain dalam membentuk karakter religius peserta didik. Pelaksanaan program tersebut didukung oleh beberapa faktor, yaitu komitmen dan kepemimpinan kepala madrasah yang kuat, keterlibatan aktif seluruh guru dan staf dalam kegiatan keagamaan, serta dukungan positif dari orang tua dan masyarakat sekitar. Namun, implementasinya juga menghadapi sejumlah hambatan, antara lain keterbatasan sarana dan prasarana seperti kapasitas mushola dan jumlah Al-Qur’an yang belum memadai, pengaruh lingkungan eksternal berupa media elektronik dan pergaulan di luar sekolah, serta keterbatasan waktu akibat padatnya kurikulum pembelajaran.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan. Pertama, Kepala MIS Yasim Sari diharapkan dapat menginisiasi pengembangan sarana dan prasarana pendukung program religius melalui pelibatan aktif orang tua dan masyarakat. Kedua, guru perlu terus meningkatkan kompetensi dalam mengintegrasikan nilai-nilai religius ke dalam proses pembelajaran secara kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Ketiga, orang tua diharapkan lebih aktif mendampingi anak, khususnya dalam penggunaan media elektronik, serta memperkuat pembiasaan karakter religius di lingkungan keluarga. Keempat, peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan kajian ini melalui pendekatan kuantitatif guna mengukur pengaruh budaya sekolah terhadap pembentukan karakter religius, atau melakukan penelitian komparatif antar madrasah di wilayah yang berbeda.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala MIS Yasim Sari Kabupaten Bima, guru, staf, peserta didik, orang tua, dan masyarakat sekitar atas dukungan serta partisipasinya dalam pelaksanaan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, N. N. (2024). Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Berbasis Kearifan Lokal Studi Kasus di Indonesia Timur. Islamic Elementary Education Journal, 3(1), 35–64. https://doi.org/Doi: https://doi.org/10.47454/IEEJ.2024.v3i1.3

Ambarwati, A. P., Budiarti, A. R., & Laela, N. (2023). Urgensi Pendidikan Karakter Religius dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa. Jurnal Pendidikan Dan Media Pembelajaran, 1(1), 35–46.

Andriani, A. D. (2022). Manajemen sumber daya manusia (cetakan 1). CV. Tohar Media.

Basri, H., Suhartini, A., & Nurhikmah, S. (2023). Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik Melalui Pembiasaan Kegiatan Keagamaan di MA Miftahul Ulum Kabupaten Purwakarta. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12(2), 1521–1534. https://doi.org/10.30868/ei.v12i02.4269

Duryat, M. (2021). Kepemimpinan Pendidikan: Meneguhkan Legitimasi Dalam Berkontestasi Di Bidang Pendidikan. Alfabeta.

Fajri, N., & Maidatus, A. (2025). Menumbuhkan Budaya Religius : Pendekatan Guru PAI dalam Pendidikan Karakter. Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 21(2), 109–120. https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.54069/attaqwa.v21i2.972

Haeriyyah. (2025). Integration of Islamic educational values on the “Kampus Mengajar” program in Makassar. Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Agama, 17(1), 715–728.

Indiarti, K. (2026). Pengaruh Kepemimpinan Spiritual Kepala Sekolah Terhadap Budaya Religius Sekolah Menengah Pertama: Pendekatan Kuantitatif Dengan Analisis Regresi Linier Sederhana. Arsen: Jurnal Penelitian Pendidikan, 3(2), 94–108. https://journal.unwira.ac.id/index.php/ARSEN

Isnaini, H. (2024). Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Religius Siswa. Ikhlas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam, 1(4), 95–111.

Kibtiyah, A., Idawati, K., & Muaz, Y. A. (2025). Collaboration on Local Wisdom-Based Character Education between Schools and Parents of Students in Islamic Religious Education Units. Al-Hayat: Journal of Islamic Education, 9(2), 459–475. https://ejournal.alhayat.or.id/index.php/ajie/article/view/175/67

Kurniawati, T., & Setiawan, M. (2025). Developing Religious Values through the Diniyah Takmiliyah Wustha Program in Shaping Students ’ Noble Character. Journal of Science and Education (JSE), 6(September), 1–11. https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.58905/jse.v6i1.1.612

LESTARI, N. (2025). Pembentukan Karakter Religius dan Sikap Peduli Sosial pada Peserta Didik di Sekolah MA Alkhairaat Sibalaya Kabupaten Sigi [Universitas Islam Negeri Datokarama Palu.]. https://repository.uindatokarama.ac.id/id/eprint/5302/

Mollah, M. K. (2024). Tantangan Pembelajaran Di Era Digital Dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Di Sekolah Menengah Atas Muhamadiyah 2 Surabaya. El-Banat: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam, 14(1), 49–50. https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.54180/elbanat.2024.14.2.203-220

Mu’tazim, R. (2024). Penguatan Karakter Religius Melalui Budaya Sekolah Di Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Arifin Sumberejo Ambulu Jember [Universitas Islam Negeri]. https://digilib.uinkhas.ac.id/39138/1/Rizal Mu%27tazim Watermark.pdf

Murtafiah, N. H. (2021). Analisis Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Yang Handal dan Profesional ( Studi Kasus : IAI An-Nur Lampung ). Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 789–812. https://doi.org/10.30868/ei.v10i02.2358

Najib, N. A., Mardiana, N., Puspitasari, W., & Alberic, D. (2024). Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Kurikulum Merdeka: Kajian Kepustakaan. ATH-THALIB: Jurnal Mahasiswa STIT Tanggamus, 02(01), 38–43. website: http://jurnal.stittanggamus.ac.id/index.php/ATH-THALIB

Novitasari, L. D. (2025). Pengembangan Karakter Religius Dalam Membentuk Kesadaran Beragama Siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Vicratina: Jurnal Pendidikan Islam, 10(4), 275–282.

Nurulhaq, D., Fikri, M., & Azizah, H. N. (2021). Urgensi Iffah Bagi Masyarakat Sekolah. ATTHULAB: Islamic Religion Teaching & Learning Journal, 6(1), 41–60.

Pitriati. (2025). Penguatan Karakter Religius Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar Islam Mutiara Al Madani. IAIN Kerinci.

Priatmoko, S. (2025). Exploration of Religious Character Education in Pesantren-Based Madrasah Ibtidaiyah. Mudarrisa:Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 17(1), 1–28. https://ejournal.uinsalatiga.ac.id/index.php/mudarrisa/article/view/3329/651

Rohman, A. S., Fiona, M., Atika, A., & Odela, T. (2025). Dampak Keterbatasan Sarana Dan Prasarana Terhadap Kualitas Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Karimah Tauhid, 4(11), 8848–8865.

Sari, F. N., Zulaikha, S., & Listyasari, W. D. (2025). Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mendukung Implementasi Kurikulum As-Sunnah Berbasis Penguatan Karakter Religius. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(3), 4081–4090. https://www.jurnaldidaktika.org/index.php/contents/article/view/2813/1198

Shoimah, R. N. (2023). Implementasi Pendidikan Karakter Religius Melalui Budaya Sekolah Di Mi Tarbiyatul Athfal 2 Bangeran. Dar El Ilmi: Jurnal Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora, 10(1), 103–119.

Sundari, J. (2023). Peran Teori Belajar Sosial (Bandura) dalam Pembentukan Sikap Religius Siswa di SD Negeri 168 Rejang Lebong. Jurnal Literasiologi, 14(3), 1–8. https://jurnal.literasikitaindonesia.com/index.php/literasiologi/article/view/1067/1133

Syukron, M., & Firdian, F. (2025). Relevansi Nilai-nilai Aswaja dalam Membentuk Karakter Pelajar di Era Digital. Aksioreligia: Jurnal Studi KeIslaman, 3(1), 52–59. https://doi.org/10.59996/aksioreligia.v3i1.765

Tihurua, N. J. (2025). Implementasi Budaya Religius Dalam Mengembangkan Karakter Siswa Madrasah Ibtidaiyah. JPMI: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 7(2), 75–85. http://jim.unisma.ac.id/index.php/JPMI/index

Downloads

Published

2026-06-30

How to Cite

Arfahun Susilawati, Abdussahid, & Sri Jamilah. (2026). Implementasi Pendidikan Karakter Religius Berbasis Budaya Sekolah di MIS Yasim Sari Kabupaten Bima. ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin, 4(6), 1778–1791. https://doi.org/10.55681/armada.v4i6.2594