Pendidikan Berbasis Komunitas tentang Pentingnya Sarapan dan Pengurangan Junk Food untuk Kesehatan Reproduksi Remaja Putri
DOI:
https://doi.org/10.55681/swarna.v5i7.3298Keywords:
Anemia, Sarapan, Junk Food, Remaja Putri, Edukasi Kesehatan, Pencegahan AnemiaAbstract
Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami remaja putri di Indonesia dan berdampak pada status gizi serta kesehatan reproduksi. Salah satu faktor risiko utamanya adalah pola makan tidak sehat, khususnya kebiasaan melewatkan sarapan dan tingginya konsumsi junk food yang menyebabkan rendahnya asupan zat besi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja putri mengenai pentingnya sarapan bergizi dan pengurangan konsumsi junk food sebagai upaya pencegahan anemia. Kegiatan dilaksanakan pada 60 siswi kelas VII melalui edukasi kesehatan berbasis komunitas dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, pemutaran video edukatif, dan kuis. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test dengan 10 soal pilihan ganda. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, dengan rata-rata skor pre-test sebesar 56,4 meningkat menjadi 82,1 pada post-test dan 85% peserta mengalami peningkatan skor. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi partisipatif efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja putri mengenai pencegahan anemia defisiensi besi dan mendorong perilaku makan yang lebih sehat.
Downloads
References
Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S. L., Hauth, J. C., Rouse, D. J., & Spong, C. Y. (2010). Williams obstetrics(23rd ed.). New York: McGraw-Hill Medical.
Fulkerson, J. A. (2018). Fast food in the diet: Implications and solutions for families. Physiology and Behavior, 193, 252 256. https://doi.org/10.1016/j.physbeh.2018.04.005
Hardiansyah, & Supariasa, D. N. (2017). Ilmu gizi: Teori dan aplikasi. Jakarta: EGC.
Pibriyanti, K., & Zahro, L. (2020). Relationship between micronutrient and anemia incidence in adolescents at Islamic boarding school. Hafidhotun Nabawiyah, 8(3), 130–135.
Setiadi, S. A. (2014). Buku ajar ilmu penyakit dalam (Jilid 1, Edisi 6). Jakarta: Interna Publishing.
Sholicha, C. A., & Muniroh, L. (2019). Correlation between intake of iron, protein, vitamin C and menstruation pattern with haemoglobin concentration among adolescent girls in Gersik, Indonesia. Media Gizi Indonesia, 14(2), 147–153. https://doi.org/10.20473/mgi.v14i2.147-153
Tayel, D., & Ezzat, S. (2015). Anemia and its associated factors among adolescents in Alexandria, Egypt. International Journal of Health Sciences and Research, 5(7), 235–240.
World Health Organization. (2011). Prevention of iron deficiency anaemia in adolescents: Role of weekly iron and folic acid supplementation. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2020). WHO guideline on use of ferritin concentrations to assess iron status in individuals and populations. Geneva: WHO.
World Health Organization. (n.d.). Weekly iron and folic acid supplementation as an anaemia-prevention strategy in women and adolescent girls: Lessons learnt from implementation of programmes among non-pregnant women of reproductive age. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2022). WHO guidance helps detect iron deficiency and protect brain development. Retrieved from https://www.who.int/news/item/20-04-2020-who-guidance-helps-detect-iron-deficiency-and-protect-brain-development
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Yusmalia Hidayati, Wiwiek Elsada, Dinda Dian

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








