Menggagas Model Pengabdian Masyarakat Kolaboratif Berbasis Pentahelix untuk Pembangunan Desa Wisata Berkelanjutan

Authors

  • Muhammad Fachrin Univeristas Muhammadiyah Mataram
  • Haerul Ansyar Universitas Muhammadiyah Mataram

DOI:

https://doi.org/10.55681/swarna.v4i1.1716

Keywords:

Desa Wisata, Pembangunan Berkelanjutan, Pentahelix, Pengabdian Masyarakat, Kolaborasi Strategis

Abstract

Pembangunan desa wisata merupakan agenda strategis nasional untuk pemulihan ekonomi dan penguatan resiliensi masyarakat, namun implementasinya seringkali menghadapi tantangan fundamental terkait keberlanjutan. Program pengembangan yang berjalan secara parsial, tidak terintegrasi, dan minim sinergi antar pemangku kepentingan menjadi penghambat utama tercapainya dampak jangka panjang. Menjawab permasalahan tersebut, artikel konseptual ini bertujuan untuk merumuskan dan mengelaborasi sebuah model pengabdian masyarakat yang kolaboratif dengan mengadopsi pendekatan Pentahelix sebagai kerangka kerja untuk pembangunan desa wisata berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dan analisis-sintesis, dengan melakukan peninjauan mendalam terhadap teori pembangunan berkelanjutan, model inovasi kolaboratif, serta praktik-praktik terbaik dalam pariwisata berbasis komunitas. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah model konseptual yang memetakan secara terperinci peran, fungsi, dan mekanisme interaksi sinergis antara lima elemen kunci: Akademisi, Pelaku Usaha (Bisnis), Komunitas Lokal, Pemerintah, dan Media. Model ini menggarisbawahi bahwa keberhasilan pembangunan desa wisata tidak hanya bergantung pada kontribusi individual setiap aktor, melainkan pada kemampuan mereka untuk berorkestrasi dalam sebuah ekosistem yang terpadu. Disimpulkan bahwa implementasi model Pentahelix dalam program pengabdian masyarakat dapat mentransformasi pendekatan yang fragmentaris menjadi sebuah gerakan kolektif, sehingga mampu mewujudkan desa wisata yang tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial dan lestari secara ekologis.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Carayannis, E. G., & Campbell, D. F. J. (2012). Mode 3 knowledge production in quadruple helix innovation systems. Springer.

Etzkowitz, H., & Leydesdorff, L. (2000). The dynamics of innovation: from National Systems and “Mode 2” to a Triple Helix of university–industry–government relations. Research Policy, 29(2), 109–123.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2022). Panduan Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan di Indonesia. Kemenparekraf RI.

Nugroho, I., & Purnomo, H. (2021). The challenges of sustainable tourism development in rural Indonesia: A case study approach. Journal of Sustainable Tourism, 29(4), 657–675.

Ramadhan, A., & Sari, D. P. (2021). Model Inovasi Pentahelix: Sinergi Multipihak dalam Pembangunan Daerah. Penerbit Cendekia.

Susanto, H. (2020). Pemberdayaan masyarakat di era otonomi daerah: Konsep, strategi, dan implementasi. Jurnal Pembangunan Sosial, 8(1), 45–59.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

World Commission on Environment and Development. (1987). Our common future. Oxford University Press.

Downloads

Published

2025-01-30

How to Cite

Fachrin, M., & Ansyar, H. (2025). Menggagas Model Pengabdian Masyarakat Kolaboratif Berbasis Pentahelix untuk Pembangunan Desa Wisata Berkelanjutan. SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 708–712. https://doi.org/10.55681/swarna.v4i1.1716