SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat
<p><strong>SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum </strong>(SJISPH) is an open access, and peer-reviewed journal, with the online registered number <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20221115161782504" target="_blank" rel="noopener"><strong>E-ISSN 2964-0962</strong></a>. Our main goal is to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social, political and law issues: gender politics and identity, digital society and disruption, civil society movement, community welfare, social development, citizenship and public management, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, politics, governance & democracy, radicalism and terrorism. It includes but is not limited to various fields such as philosophy and theory of law, comparative law, sociology of law, international law, constitutional law, private law, economic law, environmental law, criminal law, administrative law, cyber law, human rights law, and agrarian law.<br />SJISPH is published every two month a year. Submissions are open year-round. Before submitting, please ensure that the manuscript is in accordance with SJISPH's <a href="https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/focus_scope">focus and scope</a>, written in Indonesian or English, and follows our <a href="https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/guidelines">author guidelines</a> & <a href="https://ejournal.45mataram.ac.id/files/SEIKAT_Template.docx" target="_blank" rel="noopener">manuscript template</a>. This journal has been accredited <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/17290" target="_blank" rel="noopener"><strong>SINTA 3</strong></a> through the Decree of the <a href="https://drive.google.com/file/d/1SJ_7cOinddgz1iC5aDB5mCNp5zGU-MIm/view?usp=sharing">Direktur Jendral Riset Dan Pengembangan kemdiktisaintek</a> Number : 286/DST/C3/HM.01.00/2026 </p>LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataramen-USSEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum2964-0962Kegagalan Re-Eleksi Petahana dan Batas-Batas Incumbency advantage pada Pemilu Legislatif Kota Medan 2024
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3027
<p><em>This study examines incumbency advantage in the 2024 Medan City Legislative Election, focusing on the low re-election rate of incumbent council members. Despite having access to publicly funded representative instruments, namely recess activities and local regulation socialization programs (sosper), only 19 of 50 members of the Medan City Council for the 2019</em><em>-</em><em>2024 term were re-elected. The study aims to identify factors behind incumbents’ electoral defeat and explain the relationship between recess and sosper activities and voter behavior. A descriptive qualitative approach was employed through in-depth interviews with seven informants, consisting of three re-elected incumbents, three unsuccessful incumbents, and one academic. The analysis was guided by David R. Mayhew’s incumbency advantage framework, including advertising, credit claiming, and position taking. The findings indicate that recess and sosper activities increased incumbents’ political visibility and strengthened ties with constituents. However, re-election outcomes were more strongly influenced by money politics, weak follow-up of public aspirations, internal party vote fragmentation, and voter polarization during the 2024 Presidential Election.</em></p>Andika Syahputra TjIndra FauzanTonny Pangihutan Situmorang
Copyright (c) 2026 Andika Syahputra Tj, Indra Fauzan, Tonny Pangihutan Situmorang
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541549155810.55681/seikat.v5i4.3027Hukum Siber Di Era Digital: Rekonstruksi Penanggulangan Kejahatan Deepfake Dalam Perspektif Hukum Pidana Indonesia Dan Maqāṣid Al-Syarī'ah
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3370
<p>Perkembangan pesat kecerdasan buatan generatif memungkinkan teknologi deepfake menghasilkan audio, gambar, dan video sintetis yang menyerupai konten autentik. Penyalahgunaannya mengancam identitas, privasi, reputasi, harta, kepercayaan publik, dan integritas alat bukti digital. Penelitian ini menganalisis penanggulangan kejahatan deepfake melalui integrasi hukum pidana Indonesia dengan kerangka etis-normatif maqāṣid al-syarī'ah. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan hukum Islam. Bahan hukum primer meliputi UU Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana terakhir diubah pada 2024, KUHP Nasional Tahun 2023 sebagaimana disesuaikan melalui UU Nomor 1 Tahun 2026, UU Pelindungan Data Pribadi, dan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum Indonesia dapat menjangkau akibat tertentu dari deepfake melalui ketentuan manipulasi data elektronik, penipuan, pencemaran, pornografi, kekerasan seksual berbasis elektronik, dan penggunaan data pribadi secara melawan hukum. Namun, pengaturannya masih tersebar, berorientasi pada akibat, dan belum memadai dalam merespons manipulasi identitas sintetis, penghapusan konten secara cepat, pemulihan korban, atribusi pelaku, serta tanggung jawab platform. Hukum Islam mengategorikan deepfake yang merugikan sebagai jarīmah ta'zīr karena mengandung kebohongan, penipuan, kecurangan, fitnah, dan kemudaratan. Penelitian ini menawarkan model rekonstruksi komplementer berupa definisi hukum yang presisi, kriminalisasi bertingkat berdasarkan niat dan akibat, pemulihan korban yang cepat, standar pembuktian digital, serta kewajiban pencegahan berbasis tabayun dan perlindungan akal, jiwa, kehormatan, keturunan, dan harta.</p>Muhammad HafiduddinAfif HasbullahAhmad MunirAhmad Zeeya Ulya EldaviDesi Lusiawati
Copyright (c) 2026 Muhammad Hafiduddin, Afif Hasbullah, Ahmad Munir, Ahmad Zeeya Ulya Eldavi, Desi Lusiawati
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04541325133610.55681/seikat.v5i4.3370Pengembangan Desain Koordinasi Melalui Joint Work Plan dalam Mengoptimalkan Program Sponsorship pada Bidang Pelayanan Anak di Yayasan Usaha Mulia Cianjur
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2637
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya koordinasi dalam organisasi pelayanan kemanusiaan guna mengintegrasikan tujuan dan kegiatan antarbidang untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengujicobakan desain koordinasi melalui <em>Joint Work Plan </em>(JWP) pada Program <em>Sponsorship</em>, khususnya pada bidang pelayanan anak di Yayasan Usaha Mulia Cianjur (YUM). YUM Cianjur menghadapi berbagai masalah koordinatif, seperti mekanisme koordinasi yang masih informal, belum terdokumentasi secara sistematis, keterbatasan sumber daya manusia, serta belum adanya rencana kerja bersama. Penelitian menggunakan pendekatan <em>Participatory Action Research</em> (PAR) dengan melibatkan <em>Project Manager</em>, staff internal, dan mitra eksternal YUM Cianjur secara partisipatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, <em>Focus Group Discussion</em> (FGD), observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data mencakup pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Pengembangan dan ujicoba desain koordinasi melalui JWP dilakukan dengan tahapan refleksi desain, identifikasi kebutuhan, perencanaan, implementasi, evaluasi, dan penyempurnaan desain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan desain koordinasi melalui JWP mampu memperjelas pembagian peran dan tanggung jawab, memperkuat komunikasi lintas bidang, meningkatkan integrasi program, menciptakan mekanisme koordinasi yang lebih sistematis dan partisipatif, serta mampu meningkatkan efektivitas monitoring dan evaluasi program <em>Sponsorship</em>. Temuan pada penelitian ini berimplikasi secara teoritis maupun praktis pada pentingnya perencanaan operasional, komunikasi yang terstruktur dalam organisasi, dan pengelolaan jaringan kerja dalam organisasi pelayanan kemanusiaan sehingga koordinasi berjalan dengan baik. Dengan demikian, desain JWP relevan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan program pada Organisasi Pelayanan Kemanusiaan.</p>Tesa MelianiAribowoSusilawati
Copyright (c) 2026 Tesa Meliani, Aribowo, Susilawati
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541349135910.55681/seikat.v5i4.2637Transformation of Emergency Department Services through Hospital Management Information System: A Case Study of Bakti Pajajaran Regional General Hospital
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3207
<p class="isselectedend" style="text-align: justify; margin: 0in 0in .0001pt -4.15pt;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Footlight MT Light','serif';">This study examines the digital transformation of Emergency Department services through the Hospital Management Information System at Bakti Pajajaran Regional General Hospital, Bogor Regency. Digital transformation has become a strategic necessity for improving public service quality, bureaucratic efficiency, and patient safety. The study aims to analyze the dynamics of digital transformation in emergency services from a public administration perspective and identify its contribution to service efficiency and patient safety. Using a qualitative post-positivist approach, data were collected through in-depth interviews, observation, document analysis, and literature review. The analysis applied a public sector digital transformation framework consisting of transformation reasons, objects, processes, and results. The findings show that digital transformation was driven by the need to improve service quality, advances in information technology, and national regulatory demands. The system improved service efficiency by accelerating access to patient data, reducing duplicate documentation, and strengthening inter-unit coordination. It also supported patient safety through more complete, accurate, and traceable clinical documentation. However, challenges remain in system interoperability, digital competency, health data governance, and information security.</span></p>Dani NurachmanVishnu Juwono
Copyright (c) 2026 Dani Nurachman, Vishnu Juwono
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541588159910.55681/seikat.v5i4.3207The The Construction of Love for the Homeland Values Through Local Wisdom of Traditional House Architecture as a Form of Civic Character in Sade Village
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3641
<p>This study aims to analyze the local wisdom values embedded in the architecture of the traditional houses of Sade Village and to examine their role in shaping patriotism and civic character among the community. The study employed a qualitative approach with an ethnographic design conducted in Sade Traditional Village, Central Lombok Regency, West Nusa Tenggara, Indonesia. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving traditional leaders, community members, and young generations selected purposively. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing, while data validity was ensured through source and technique triangulation. The findings reveal that the architecture of Sade traditional houses embodies the values of togetherness, mutual cooperation, deliberation, collective responsibility, respect for ancestral heritage, cultural identity, and harmony with the environment. Patriotism is constructed through the preservation of traditional houses, intergenerational cultural transmission, community participation in customary activities, and the interpretation of traditional houses as symbols of cultural and national identity. These values contribute to the development of civic character, including a sense of belonging to the nation, social responsibility, social participation, solidarity, environmental awareness, and tolerance. The findings confirm that the local wisdom embedded in traditional house architecture serves an educational function as a culture-based source of civic learning to strengthen patriotism and national identity in a sustainable manner.</p>Aulia Asri UtamiMarzuki
Copyright (c) 2026 Aulia Asri Utami, Marzuki
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541421143410.55681/seikat.v5i4.3641Efek Coattail Prabowo-Gibran dan Strategi Kampanye Adaptif
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2920
<p><em>The “coattail effect” in simultaneous elections is an important issue in the study of electoral politics, yet its strategic use at the local level has been relatively under-researched. This study analyzes the campaign strategy of the Antonius Ginting</em><em>-</em><em>Komando Tarigan ticket in leveraging the Prabowo</em><em>-</em><em>Gibran “coattail effect ” during the 2024 Karo Regency Regional Election. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews with the campaign team and analysis of campaign documents. The results show that the campaign team implemented a multidimensional strategy that integrated national political influence with local strengths. The coattail effect was leveraged through the use of campaign materials with a national theme, aligning with the “02” ballot number, building a narrative of synergy with the central government, and mobilizing the figure of Bobby Nasution. This strategy was reinforced by the campaign’s organizational structure, local cultural networks, voter segmentation, and Antonius Ginting’s personal branding. These findings confirm that electoral success resulted from an adaptive strategy capable of converting national political momentum into organized local support.</em></p>Daud Steven Lingga
Copyright (c) 2026 Daud Steven Lingga
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541455146610.55681/seikat.v5i4.2920Rekonstruksi Pemidanaan Pelaku Tindak Pidana Korupsi dalam Perspektif Pemulihan Keuangan Negara
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3354
<p>Korupsi merupakan <em>extraordinary crime</em> yang tidak hanya menimbulkan kerugian keuangan negara, tetapi juga menghambat pembangunan dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Meskipun pengembalian kerugian keuangan negara telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, masih terdapat permasalahan mengenai kedudukannya sebagai dasar pengurangan pidana serta akibat hukum yang ditimbulkannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengembalian keuangan negara sebagai dasar pengurangan pidana dalam perspektif pemulihan serta mengkaji akibat hukum pemulihan keuangan negara oleh pelaku tindak pidana korupsi. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, kasus, dan perbandingan, yang dianalisis secara deskriptif-analitis dan preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembalian kerugian keuangan negara berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tidak menghapuskan pertanggungjawaban pidana, namun dapat dipertimbangkan sebagai keadaan yang meringankan pidana karena mencerminkan itikad baik pelaku. Selain itu, konsep pemulihan sejalan dengan tujuan pemidanaan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menekankan pemulihan keseimbangan, penyelesaian konflik, dan perlindungan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemulihan keuangan negara perlu ditempatkan sebagai pertimbangan penting dalam individualisasi pidana guna mewujudkan sistem pemidanaan yang lebih efektif, berkeadilan, dan berorientasi pada pengembalian kerugian negara.</p>Muhamad Dandy Kris IndrawanTahegga Primananda Alfath
Copyright (c) 2026 Muhamad Dandy Kris Indrawan, Tahegga Primananda Alfath
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541627163710.55681/seikat.v5i4.3354Ratio Decidendi Hakim dalam Mengabulkan Permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Bima
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3137
<p>Dispensasi kawin merupakan instrumen hukum yang diberikan oleh pengadilan untuk memberikan izin perkawinan bagi calon mempelai yang belum mencapai batas usia minimum perkawinan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Meningkatnya permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama Bima menunjukkan adanya berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan keagamaan yang memengaruhi masyarakat dalam mengajukan permohonan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ratio decidendi hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama Bima serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutus perkara tersebut. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan sosiologis. Data diperoleh melalui wawancara dengan hakim, panitera, dan pihak terkait serta didukung oleh studi dokumentasi terhadap putusan dispensasi kawin yang telah berkekuatan hukum tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratio decidendi hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi kawin tidak hanya didasarkan pada ketentuan normatif yang berlaku, tetapi juga mempertimbangkan aspek kemaslahatan, kondisi psikologis calon mempelai, kesiapan keluarga, serta potensi dampak sosial yang dapat timbul apabila permohonan tidak dikabulkan. Hakim berupaya menyeimbangkan kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan hukum dalam setiap putusan yang dijatuhkan. Selain itu, faktor kehamilan di luar nikah, hubungan yang telah terjalin erat antara calon mempelai, serta dukungan orang tua menjadi pertimbangan dominan dalam pengabulan permohonan dispensasi kawin. Oleh karena itu, putusan hakim dalam perkara dispensasi kawin pada dasarnya merupakan bentuk perlindungan hukum yang bertujuan mencegah terjadinya dampak sosial yang lebih luas di masyarakat.</p>Fakri RahmanSyarif HidayatullahHusnatul Mahmudah
Copyright (c) 2026 Fakri Rahman, Syarif Hidayatullah, Husnatul Mahmudah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-042026-08-04541337134810.55681/seikat.v5i4.3137Makan Bergizi Gratis Analisis Kebijakan Menurut Politik Islam
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3494
<p>Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan publik strategis nasional yang diamanatkan melalui Perpres No. 115 Tahun 2025 untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, eksekusi birokrasi barisan depan (street-level bureaucracy) di lapangan masih menghadapi hambatan struktural sosiogeografis dan finansial. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus fenomenologis ini menarik 7 unit sampel struktural secara asimetris dengan proporsi Kontra (Bermasalah) dan Pro (Berjalan Baik) di Provinsi Sumatera Utara. Data primer dihimpun via wawancara mendalam terhadap 7 informan kunci teknokratis dan dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, serta triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan kluster Pro sukses mengelola central kitchen 3.000 porsi/hari dan kluster ekonomi sirkular desa. Sebaliknya, kluster Kontra merekam kegagalan implementasi sistemik berupa pembekuan otomatis dana Virtual Account oleh aplikasi Dialur akibat kendala internet desa, ketidakadilan spasial indeks porsi nasional pada wilayah 3T Nias Selatan, serta bias penargetan (inclusion and exclusion error) di wilayah pesisir yang memicu pemindahan beban kerja (workload shifting) ke pundak guru. Dalam perspektif Politik Islam, potret kontra ini menjadi bukti distorsi nilai amanah dan keadilan distributif (al-'adalah al-ijtima'iyyah) akibat "kebutaan spasial" birokrasi pusat yang mengorbankan perlindungan jiwa (hifzhun nafs) dan akal (hifzhul 'aql) anak. Kesimpulan penelitian ini melahirkan Model Integrasi Kebijakan Publik Berbasis Maslahah 'Ammah yang menegaskan bahwa efektivitas good governance teknokratis wajib diintegrasikan dengan roh penggerak etis (moral driving force) Islam melalui penerapan formula fiskal asimetris dan penguatan sistem outcome monitoring jangka panjang.</p>Ilham Budiman PanggabeanHasyimsyah NasutionElly Warnisyah Harahap
Copyright (c) 2026 Ilham Budiman Panggabean, Hasyimsyah Nasution, Elly Warnisyah Harahap
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541375139010.55681/seikat.v5i4.3494Pancasila Education as an Instrument for Internalizing Constitutional Values in Character Formation of Students at Muhammadiyah Senior High School in Makassar City
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2838
<p><em>This study aims to analyze the implementation of constitutional values through Pancasila Education in character building of students at Muhammadiyah Senior High School in Makassar City, identify supporting and inhibiting factors, and examine teacher strategies in the process of internalizing values. The study used a qualitative approach with a descriptive type through in-depth interviews, observation, and documentation techniques with the principal, Pancasila Education teachers, and students. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña with validity testing through triangulation. The results of the study indicate that the internalization of constitutional values is implemented integratively through intracurricular learning, school culture, and character building that forms nationalism, democracy, responsibility, tolerance, legal awareness, justice, and mutual cooperation. The main supporting factors include school culture, teacher role models, school leadership, and parental involvement, while social media and low discipline are the dominant obstacles. The novelty of this study produces the Constitutional Character Ecosystem Model, which emphasizes that the formation of constitutional character is the result of the interaction between constitutional learning, school culture, teacher role models, and continuous character building.</em></p>Umar SyamMustaring MustaringNajamuddin NajamuddinBakhtiar Bakhtiar
Copyright (c) 2026 Umar Syam, Mustaring Mustaring, Najamuddin Najamuddin, Bakhtiar Bakhtiar
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541391140710.55681/seikat.v5i4.2838This Manifestasi Nilai Keikhlasan dalam Perilaku Altruistik Relawan Kemanusiaan di Banyumas
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3337
<p><em>This study examines the manifestation of sincerity (ikhlas) values in the altruistic behavior of humanitarian volunteers in Banyumas Regency, Central Java, Indonesia. Using a phenomenological qualitative approach, this research explores how ikhlas-as a core virtue in Islamic psychology-shapes, sustains, and deepens altruistic engagement among Muslim volunteers. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and participatory observation involving 10 active volunteers from organizations: Senyum Anak Nusantara, Relawan Gesit Youth For Sustainable Agriculture Banyumas. Data analysis employed the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. Results reveal that altruistic behavior is driven and sustained by three interrelated dimensions of ikhlas: (1) purity of motivation without personal gain, (2) consistency in helping despite obstacles and social pressures, and (3) inner tranquility (tumaʼninah) as post-altruistic resonance. Ikhlas functions as a psycho-spiritual moderator integrating Islamic spiritual values and Javanese gotong royong culture with genuine prosocial behavior. These findings contribute to the development of spiritually-grounded altruism theory within the Javanese-Islamic cultural context.</em></p>irfazahratikazalafi
Copyright (c) 2026 Irfatul Azqiah, Zahratika Zalafi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541492150410.55681/seikat.v5i4.3337Perkembangan Asas Keamanan & Keselamatan Konsumen: Tinjauan Harmonisasi Batas Cemaran Kosmetik Berdasarkan ASEAN Mutual Recognition Arrangement
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3131
<p><em>The rising circulation of cosmetics containing hazardous and/or prohibited ingredients indicates persistent weaknesses in business operators' compliance with product safety standards, thereby posing a potential threat to consumer health. This situation has prompted a regulatory update via BPOM Regulation Number 16 of 2024, serving to harmonize Indonesian regulations with the Agreement on the ASEAN Harmonized Cosmetic Regulatory Scheme (AHCRS), particularly regarding the establishment of limits for cosmetic contaminants. This study aims to analyze the evolution of consumer safety principles through the harmonization of cosmetic contaminant limits in Indonesia, as well as the implications for consumer protection and business operator liability. The research employs a normative legal research method, utilizing both the statute approach and the conceptual approach. The findings indicate that harmonizing cosmetic contaminant limits with ASEAN standards strengthens legal protection for consumers by elevating product safety standards and enhancing requirements for cosmetic notification, labeling, and BPOM supervision. Consumer safety principles are implemented through the application of strict liability to business operators who manufacture or distribute cosmetics failing to meet safety requirements, accompanied by administrative, civil, and criminal sanctions in accordance with statutory regulations. Furthermore, consumers may resolve disputes through litigation or non-litigation mechanisms to obtain compensation. Thus, the harmonization of cosmetic regulations not only supports trade integration within the ASEAN region but also strengthens the consumer protection system in Indonesia by enhancing product safety standards, legal certainty, and business operator accountability.</em></p>Latifatur Rokhmah Adhami
Copyright (c) 2026 Latifatur Rokhmah Adhami
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541559157410.55681/seikat.v5i4.3131Evaluasi Kebijakan Tebusan Barang Sitaan di Pondok Pesantren Al Muhammad Cepu Integrasi Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafii Berbasis Teori Solidaritas Sosial
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3440
<p><em>This study was motivated by the implementation of a confiscated-item redemption policy at Al-Muhammad Islamic Boarding School, Cepu, as a disciplinary measure for students. The policy raises different interpretations in Islamic jurisprudence regarding the permissibility of ta’zir bi al-m</em><em>ā</em><em>l according to the Hanafi and Shafi'i schools and its implications for social solidarity. This study aimed to analyze the implementation of the policy, examine it from the perspectives of the Hanafi and Shafi'i schools, and interpret it using Émile Durkheim's theory of social solidarity. A qualitative case study approach was employed. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving the boarding school leader, administrators, and students. Data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model and validated through source, technique, and time triangulation. The findings indicate that the policy serves as an educational disciplinary mechanism to promote responsibility, discipline, environmental awareness, and prevent wasteful behavior. Its implementation reflects contextual ijtihad by combining ta’zir bi al-m</em><em>ā</em><em>l and ta’zir bi al-abd</em><em>ā</em><em>n </em><em>according to students' conditions. The policy also strengthens social cohesion through collective compliance with institutional rules. These findings demonstrate that the policy prioritizes educational values and public benefit rather than economic interests</em><em>.</em></p>Alfi AdindaNurul HudaMuhammad Abdullah Hafith
Copyright (c) 2026 Alfi Adinda, Nurul Huda, Muhammad Abdullah Hafith
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541647165510.55681/seikat.v5i4.3440Desain Kebijakan Berbasis Kapasitas dalam Tata Kelola Sertifikasi Pekebun Sawit Mandiri
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2791
<p>Pekebun sawit mandiri memiliki posisi penting dalam tata kelola sawit berkelanjutan, tetapi kebijakan sertifikasi sering berangkat dari asumsi bahwa kepatuhan dapat dicapai ketika standar sudah tersedia. Artikel ini mengkaji sertifikasi sebagai instrumen kebijakan publik yang bergantung pada kapasitas tata kelola, bukan sekadar kepatuhan administratif. Dengan menggunakan tinjauan literatur integratif, sumber akademik dan dokumen kebijakan terpilih disintesis melalui lima klaster tematik, yaitu standar sertifikasi, kesiapan pekebun, insentif ekonomi, koordinasi multiaktor, dan kapasitas kebijakan lokal. Sintesis menunjukkan bahwa hambatan sertifikasi dibentuk oleh ketimpangan legalitas lahan, kelembagaan pekebun yang lemah, kualitas data yang terbatas, pendampingan jangka pendek, insentif yang belum pasti, koordinasi yang terfragmentasi, serta kepercayaan kelembagaan yang belum merata. Kabupaten Kutai Timur digunakan sebagai konteks kebijakan lokal ilustratif karena dokumen perencanaan dan RAD KSB daerah tersebut memuat penguatan data, kapasitas pekebun, Internal Control System, penyelesaian sengketa, percepatan ISPO, dan akses pasar. Artikel ini berkontribusi pada kajian Administrasi Publik dengan menempatkan sertifikasi sebagai desain kebijakan berbasis kapasitas.</p>Warsino WarsinoIndah SusilowatiIda Hayu DwimawantiAmni Zarkasyi Rahman
Copyright (c) 2026 Warsino Warsino, Indah Susilowati, Ida Hayu Dwimawanti, Amni Zarkasyi Rahman
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541672168310.55681/seikat.v5i4.2791Produksi Diskursif Rasa Aman
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3329
<p><em>This study aims to analyze the discursive construction of the sense of safety through power/knowledge relations in the crime control policies of Indonesia’s Coordinating Ministry for Political and Security Affairs. The study employs a qualitative approach using Michel Foucault’s Critical Discourse Analysis. The data consist of the Ministry’s Performance Reports, crime statistics published by the Indonesian National Police, and survey indicators issued by Statistics Indonesia (BPS). The analysis is conducted through archaeological and genealogical approaches to examine how the sense of safety is constituted both as an object of knowledge and as an instrument of governmentality. The findings demonstrate that the sense of safety indicator functions not merely as a measurement tool but also as a discursive construct that legitimizes public policy and produces a regime of truth. Consequently, crime control policy operates as a mechanism of power/knowledge that shapes the ways in which the state governs the population while simultaneously influencing public understandings of security</em><strong><em>.</em></strong></p> <p> </p>Asmoro AjiArizal MutahirEros Shidqy Putra
Copyright (c) 2026 Asmoro Aji, Arizal Mutahir, Eros Shidqy Putra
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541478149110.55681/seikat.v5i4.3329Penguatan Pemahaman Politik Siswa melalui Pembelajaran Pendidikan Pancasila: Studi Kasus di SMA Sayyid Yusuf Talango Kabupaten Sumenep
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3672
<p>This study aims to analyze the implementation of political education through Pancasila Education, improving students' political understanding, and the challenges of its implementation at Sayyid Yusuf Talango High School, Sumenep. The study used a qualitative approach with a case study approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation with the principal, teachers, and students. The results indicate that political education is implemented through topics on democracy, the rights and obligations of citizens, and political participation, using discussion, debate, and election simulation methods. This learning enhances students' political understanding across cognitive, affective, and participatory aspects. Challenges include limited access to information and technological resources, low political literacy, and the suboptimal use of innovative learning methods.</p>Iqwan HomaidySunarso Sunarso
Copyright (c) 2026 Iqwan Homaidy, Sunarso Sunarso
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541445145410.55681/seikat.v5i4.3672Analisis Pencitraan Walikota Medan Bobby Nasution Melalui Kebijakan Pembangunan Infrastruktur Tahun 2021–2023
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3029
<p><em>This study aims to analyze how infrastructure development policies for the 2021</em><em>-</em><em>2023 period were utilized as a tool to shape Bobby Nasution’s political image during his tenure as Mayor of Medan, in line with his increasing political exposure ahead of his candidacy for Governor of North Sumatra. The study employs a qualitative approach with a descriptive-analytical case study design. Data were collected through in-depth interviews and validated using source triangulation. Data analysis was conducted using a theory-driven approach based on Dan Nimmo’s Political Image Theory (1989) and Brian McNair’s Political Communication Theory (2020), through the stages of data reduction, data presentation, open coding, selective coding, and drawing conclusions. The research results indicate that road improvement programs through “Medan Membangun,” river normalization for flood management, and the revitalization of Merdeka Square function as a medium for planned political image-building. These programs contribute to shaping Bobby Nasution’s image as a credible, competent leader who cares about the community’s needs. Nevertheless, the effectiveness of image-building through infrastructure development is conditional and depends on the sustainability of the quality of development as well as its alignment with the community’s needs in an equitable manner.</em></p>Sonia Gabriella Sitorus
Copyright (c) 2026 Sonia Gabriella Sitorus
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541519153210.55681/seikat.v5i4.3029Nilai-Nilai Politik Islam Dalam Menguatkan Masyarakat Madani Pada Partai Nasdem Sumatera Utara
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3378
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai politik Islam dalam menguatkan masyarakat madani pada Partai NasDem Sumatera Utara, mengidentifikasi bentuk implementasinya dalam kebijakan, program, dan aktivitas partai, serta menganalisis faktor-faktor yang mendukung dan menghambat internalisasi nilai-nilai tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengurus dan kader Partai NasDem Sumatera Utara, observasi lapangan, dokumentasi, serta studi kepustakaan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Partai NasDem bukan merupakan partai berbasis Islam, nilai-nilai politik Islam diimplementasikan secara substantif melalui prinsip keadilan, amanah, musyawarah, persamaan, toleransi, dan kemaslahatan sosial. Implementasi tersebut tercermin dalam pelayanan politik yang inklusif, pendidikan politik, pemberdayaan masyarakat, kegiatan sosial dan kemanusiaan, serta mekanisme pengambilan keputusan yang partisipatif. Praktik tersebut berkontribusi dalam memperkuat masyarakat madani melalui peningkatan partisipasi masyarakat, toleransi, demokrasi, dan kepercayaan publik. Faktor pendukung implementasi meliputi komitmen terhadap politik bersih, budaya religius masyarakat Sumatera Utara, program pemberdayaan sosial, serta kaderisasi dan pendidikan politik. Sementara itu, faktor penghambat mencakup pragmatisme politik, tingginya biaya politik, lemahnya konsistensi moral sebagian elite politik, serta tantangan politik identitas dalam masyarakat yang plural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai politik Islam di Partai NasDem Sumatera Utara merupakan proses yang terus berkembang dan memiliki peran penting dalam membangun politik yang beretika, inklusif, demokratis, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.</p>Yusril Ihza Mahendra SrgElly Warnisyah HrpAgusman Damanik
Copyright (c) 2026 Yusril Ihza Mahendra Srg, Elly Warnisyah Hrp, Agusman Damanik
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06541710172010.55681/seikat.v5i4.3378Open Recruitment as the Foundation of a Political Party Grounded in Pancasila
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2678
<p><em>Political parties play a crucial role in the political recruitment process as a means of training and selecting future leaders in a democratic system. However, political recruitment practices in Indonesia are still often characterized by elite dominance, a lack of transparency, and weak application of meritocratic principles. This study aims to analyze open recruitment from the perspective of Pancasila ethics as the foundation for the development of democratic political parties. The study employs a literature review method with a qualitative approach through the analysis of various scientific articles, books, and relevant documents. The results indicate that open recruitment can strengthen internal party democracy, expand political participation, and enhance transparency and accountability in the candidate selection process. From the perspective of Pancasila ethics, political recruitment must be conducted fairly, participatively, and with a focus on the public interest. Therefore, open recruitment serves as a crucial foundation for political parties grounded in Pancasila ethics, as it promotes meritocracy, reduces elite dominance, and fosters leadership with integrity</em></p>MartiniSunarsoWuri Handayani
Copyright (c) 2026 Martini, Sunarso, Wuri Handayani
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07541760176710.55681/seikat.v5i4.2678Konstruksi Konstitusional Pemilihan Kepala Daerah Langsung dalam Penguatan Otonomi Daerah dan Konsolidasi Demokrasi Lokal di Indonesia
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3271
<p>Penelitian ini menganalisis pemilihan kepala daerah secara langsung sebagai instrumen konstitusional dalam penguatan otonomi daerah dan konsolidasi demokrasi lokal di Indonesia. Pilkada langsung tidak hanya berfungsi sebagai prosedur elektoral untuk menentukan kepemimpinan daerah, tetapi juga menjadi sarana perwujudan kedaulatan rakyat sebagaimana tercermin dalam prinsip demokratis Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan menelaah norma konstitusi, peraturan perundang-undangan, dan konsep demokrasi lokal dalam sistem pemerintahan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pilkada langsung memiliki peran strategis dalam memperkuat otonomi daerah melalui tiga aspek utama. Pertama, Pilkada langsung memberikan legitimasi politik yang lebih kuat kepada kepala daerah dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan publik. Kedua, mekanisme pemilihan langsung membangun hubungan akuntabilitas antara kepala daerah dan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan. Ketiga, Pilkada langsung membuka ruang partisipasi politik warga dalam menentukan arah pembangunan daerah. Kendati demikian, praktik Pilkada langsung masih menghadapi persoalan biaya politik tinggi, politik uang, polarisasi sosial, dan dominasi elite lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pilkada langsung tetap relevan sebagai mekanisme demokratis dalam sistem otonomi daerah, sepanjang diikuti dengan penguatan regulasi pemilu, penegakan hukum elektoral, pendidikan politik masyarakat, dan reformasi kelembagaan partai politik.</p>Dahlia Purnama SariArie Elca PutraFero Sanjaya
Copyright (c) 2026 Dahlia Purnama Sari, Arie Elca Putra, Fero Sanjaya
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06541698170910.55681/seikat.v5i4.3271Revitalisasi Nilai Kebajikan Kewarganegaraan Berbasis Kearifan Lokal melalui Tradisi Perang Timbung Desa Pejanggik
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3646
<p>Indonesia's rich cultural heritage contains numerous local traditions steeped in virtue, yet many face the threat of degradation due to modernization. The Timbung War tradition in Pejanggik Village, Central Lombok, represents an important local wisdom that has not been comprehensively studied as a means of preserving virtue. This study aims to analyze its multidimensional meaning, identify virtue values, and describe its role in strengthening social cohesion within the community. The method used was a qualitative ethnographic approach through in-depth interviews, participant observation, and documentation of traditional leaders, religious leaders, village government officials, and the younger generation. Data analysis included data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The results indicate: (1) the tradition serves as a meaningful ritual of gratitude, a medium for fostering friendship, and a means of conflict resolution; (2) six virtue values are embodied: mutual cooperation, togetherness, spirituality, courtesy, social awareness, and responsibility; (3) the tradition effectively preserves values through sangkep agung and the involvement of the younger generation, although some youth interpret it ceremonially. This study confirms its potential as an instrument for character education based on local wisdom.</p>M. Khairul Hafiz JauhariNasiwan Nasiwan
Copyright (c) 2026 M. Khairul Hafiz Jauhari, Nasiwan Nasiwan
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541435144410.55681/seikat.v5i4.3646Reformulasi Konsep Kerugian Negara Pada Badan Usaha Milik Negara: Antara Risiko Bisnis, Ultra Vires
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3014
<p>Permasalah hukum yang terus berulang dalam penanganan perkara korupsi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah ketidakjelasan konsep kerugian negara, khususnya saat berhadapan dengan dinamika risiko bisnis korporasi dan tindakan ultra vires direksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis batas demarkasi antara kerugian negara yang berdimensi pidana dengan kerugian bisnis yang merupakan konsekuensi lumrah dari aktivitas komersial BUMN, serta merumuskan ulang kerangka kewajiban pidana bisnis secara proporsional. Penelitian ini menggunakan teknik yuridis norma hukum, konseptual, dan komparatif. Putusan pengadilan, undang-undang dan peraturan terkait, serta putusan Mahkamah Konstitusional merupakan contoh sumber hukum utama. Temuan menunjukkan konsepsi kerugian negara dalam hukum pidana korupsi memerlukan rekonstruksi fundamental, mengingat penerapannya yang tidak tepat berpotensi mengkriminalisasi keputusan bisnis yang sah. Sistem hukum Indonesia harus mengadopsi teori Aturan Pengambilan Keputusan Korporasi sebagai pelindung direksi BUMN dari kriminalisasi atas keputusan berisiko namun itikad baik. Selain itu, pemilahan antara pertanggungjawaban perdata dan pidana atas tindakan ultra vires direksi memerlukan tolok ukur yang lebih presisi. Artikel ini merekomendasikan reformulasi definisi kerugian negara, penguatan aspek mens rea dalam konstruksi delik korupsi di BUMN, dan harmonisasi antara hukum korporasi dengan hukum pidana korupsi.</p>KMS HermanRoyke Barca BagalatuLaura E. M. PoluanJekson S LumbantoruanRega Guna Wibawa
Copyright (c) 2026 KMS Herman, Royke Barca Bagalatu, Laura E. M. Poluan, Jekson S Lumbantoruan, Rega Guna Wibawa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541505151810.55681/seikat.v5i4.3014Sanksi Pidana Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Minerba Terhadap Penambangan Pasir Tanpa Izin (Ilegal Mining)
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3355
<p>Penambangan pasir tanpa izin (illegal mining) merupakan salah satu bentuk tindak pidana di bidang pertambangan yang masih sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, perekonomian negara, serta ketertiban hukum. Meskipun Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara telah mengatur sanksi pidana secara tegas, praktik pertambangan ilegal masih terus berlangsung akibat lemahnya pengawasan, rendahnya kepatuhan hukum, dan belum optimalnya penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan sanksi pidana terhadap pelaku penambangan pasir tanpa izin serta efektivitas penerapan ketentuan pidana dalam Undang-Undang Minerba. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual melalui analisis terhadap peraturan perundang-undangan, literatur hukum, serta putusan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan pidana dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 telah memberikan dasar hukum yang cukup kuat untuk menindak pelaku pertambangan ilegal. Namun demikian, efektivitas penegakannya masih dipengaruhi oleh koordinasi antarinstansi, kualitas pengawasan, serta kesadaran hukum masyarakat. Oleh karena itu diperlukan penguatan penegakan hukum yang disertai upaya preventif melalui pengawasan dan edukasi masyarakat guna mewujudkan pengelolaan sumber daya mineral yang berkelanjutan.</p>Moch. Maulana Malik IbrahimMohammad Saleh
Copyright (c) 2026 Moch. Maulana Malik Ibrahim, Mohammad Saleh
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541638164610.55681/seikat.v5i4.3355Digital Transformation and Village Public Service Administration: A Study of Service Effectiveness in the Technology Era
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3138
<p><em>The rapid development of digital technology has encouraged governments at all levels to adopt digital transformation strategies to improve the quality of public service delivery, including at the village level. This study aims to analyze the role of digital transformation in enhancing the effectiveness of village public service administration in the technology era. The research employs a qualitative descriptive approach based on a literature review of academic journals, government reports, policy documents, and other relevant publications concerning digital governance, public administration, and village services. Data were analyzed using thematic analysis to identify patterns related to the implementation, opportunities, and challenges of digital transformation in village governance. The findings indicate that digital transformation contributes positively to the effectiveness of village public services by improving administrative efficiency, accelerating service delivery, increasing accessibility, strengthening transparency, enhancing accountability, and promoting citizen satisfaction. The adoption of digital platforms and village information systems enables more accurate data management and facilitates communication between village governments and communities. However, the implementation of digital services remains constrained by inadequate technological infrastructure, limited internet connectivity, insufficient digital literacy, and the lack of technical competencies among village officials. The study concludes that successful digital transformation requires not only technological adoption but also institutional readiness, stakeholder collaboration, continuous capacity building, and inclusive digital policies to ensure sustainable and citizen-oriented public service administration in rural areas.</em></p>Ansari MoneMuhammad YusufOndy Fitrah AnugrahAldy Nurdiansyah B
Copyright (c) 2026 Ansari Mone, Muhammad Yusuf, Ondy Fitrah Anugrah, Aldy Nurdiansyah B
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541575158710.55681/seikat.v5i4.3138Partisipasi Politik Perempuan Bangsa di Kota Medan
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3565
<p>Partisipasi politik perempuan merupakan salah satu indikator penting dalam mewujudkan demokrasi yang inklusif dan berkeadilan. Meskipun pemerintah telah menerapkan kebijakan afirmatif berupa kuota keterwakilan perempuan sebesar 30%, keterlibatan perempuan dalam politik masih menghadapi berbagai hambatan, baik struktural maupun kultural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Perempuan Bangsa sebagai badan otonom Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan di Kota Medan serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perempuan Bangsa berperan aktif dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan melalui pendidikan politik, kaderisasi, pelatihan kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Faktor pendukung meliputi dukungan kelembagaan PKB, kebijakan afirmatif pemerintah, serta meningkatnya kesadaran politik perempuan. Sementara itu, faktor penghambat meliputi budaya patriarki, keterbatasan sumber daya ekonomi, minimnya pengalaman politik, dan terbatasnya akses perempuan terhadap posisi strategis dalam politik. Dalam perspektif Pemikiran Politik Islam, keterlibatan perempuan dalam politik merupakan bagian dari upaya mewujudkan kemaslahatan, keadilan (al-'adl), persamaan (al-musāwah), dan musyawarah (syūrā). Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara organisasi, partai politik, pemerintah, dan masyarakat untuk memperkuat pendidikan politik dan kaderisasi perempuan sehingga keterwakilan perempuan tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga substantif dalam proses pengambilan kebijakan publik.</p>Desy Wulan DariZulkarnaen ZulkarnaenAminuddin Aminuddin
Copyright (c) 2026 Desy Wulan Dari, Zulkarnaen, Aminuddin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06541752175910.55681/seikat.v5i4.3565Paradoks Keadilan Algoritmik dalam Implementasi E-Notary pada Sistem Hukum Indonesia
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2900
<p>Integrasi masif Kecerdasan Buatan (AI) ke dalam arsitektur E-Notary Indonesia menjanjikan efisiensi administratif yang eksponensial sekaligus memicu ancaman eksistensial terhadap sistem hukum perdata melalui Paradoks Keadilan Algoritma. Jauh dari entitas yang bebas nilai, arsitektur kotak hitam AI secara inheren rentan untuk secara diam-diam mereplikasi dan memperkuat bias historis. Ketidakjelasan algoritma ini secara sistematis menurunkan prinsip dasar ketidakberpihakan notaris dan mengancam untuk menghilangkan status akta otentik sebagai bukti sempurna (volledig bewijskracht). Krisis struktural ini semakin diperparah oleh kekosongan akut norma hukum dan disonansi tajam antara UU Notaris (UUJN), yang menjunjung doktrin kehadiran fisik, dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang secara eksplisit mengecualikan akta notaris dari kategori dokumen elektronik yang sah. Dengan menggunakan penelitian yuridis normatif dengan pendekatan konseptual, studi ini secara kritis menganalisis bahaya ketidakjelasan sistem otonom tersebut. Berlandaskan pada Teori Hukum Progresif, terdapat kebutuhan mendesak akan rekonstruksi regulasi yang mutlak untuk menyinergikan inovasi digital dengan keadilan substantif. Tata kelola ini diusulkan melalui tiga pilar: melembagakan Kecerdasan Buatan yang Dapat Dijelaskan (Explainable AI/XAI) untuk memastikan transparansi pengambilan keputusan, mewajibkan pengawasan Manusia dalam Lingkaran (Human-in-the-Loop/HITL) sebagai otoritas diskresioner akhir, dan memanfaatkan keamanan kriptografi berbasis blockchain untuk menjamin kekebalan data.</p>Sayid Muhammad Rifki NovalAhmad JamaludinRatna Sari Putri Adiwijaya
Copyright (c) 2026 Sayid Muhammad Rifki Noval, Ahmad Jamaludin, Ratna Sari Putri Adiwijaya
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541360137410.55681/seikat.v5i4.2900Kebijakan Pemda Lumajang dalam Penukaran Uang Baru di Wilayah Kabupaten Lumajang
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3353
<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis dasar hukum dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Lumajang dalam mempermudah penukaran uang baru menjelang Hari Raya. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual melalui kajian bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa landasan hukum utama pengaturan penukaran uang baru adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta regulasi Bank Indonesia terkait pengelolaan uang rupiah. Pemerintah Daerah berperan sebagai fasilitator pelayanan publik berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dengan menyediakan lokasi penukaran resmi, mendukung layanan kas keliling Bank Indonesia, menjaga ketertiban melalui Perda Ketertiban Umum, serta melakukan edukasi masyarakat mengenai penggunaan aplikasi PINTAR BI dan deteksi uang palsu. Sinergi antara Pemda, Bank Indonesia, perbankan daerah, dan aparat keamanan mampu meningkatkan akses, keamanan, dan perlindungan konsumen sehingga penukaran uang baru menjadi lebih tertib, aman, transparan, dan mudah dijangkau masyarakat.</p>Chisilia Bayu ProboriniTahegga Primananda Alfath
Copyright (c) 2026 Chisilia Bayu Proborini, Tahegga Primananda Alfath
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541619162610.55681/seikat.v5i4.3353Internalisation of Local Wisdom Values in the Hapakat Traditional House: Civic Character Formation and National Identity Strengthening
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3136
<p>Research on local wisdom has tended to focus on descriptive cultural aspects, resulting in little integrative study of the relationship between local wisdom, civic character formation, and strengthening national identity. This study aims to analyze the process of internalizing local wisdom values in the Hapakat Traditional House, its role in shaping civic disposition, and its implications for strengthening national identity. The study used a qualitative approach with an ethnographic type conducted in Penyang Village, East Kotawaringin Regency, Central Kalimantan. Data were obtained through in-depth interviews, participant observation, and documentary analysis involving the head of the Perajah Motanoi Community, community members, and members of the community who understand the existence of the Hapakat Traditional House. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles et al. (2014) through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that the internalization of local wisdom values occurs through the interpretation of architectural symbols, socio-cultural practices, the role models of traditional leaders, deliberation activities, traditional rituals, and intergenerational interactions that instill the values of Pahari, Handep, Barendeng, Belom Bahadat, Belom Harati, Pangaji, Bakena, and Hapakat Kula, a set of Dayak ethical principles concerning kinship, mutual aid, civility, and communal harmony. These values contribute to shaping civic dispositions in the form of responsibility, discipline, social awareness, tolerance, mutual cooperation, awareness of rules, deliberation skills, and commitment to the common good. The implications of this research demonstrate the growth of national awareness rooted in the preservation of local culture through the integration of Dayak cultural values with Pancasila values (Indonesia's five foundational state principles).</p>Aditya FauzianurIqbal Arpannudin
Copyright (c) 2026 Aditya Fauzianur, Iqbal Arpannudin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541408142010.55681/seikat.v5i4.3136Coalitional Presidentialism dan Kepatuhan DPR dalam Revisi UU Pilkada Agustus 2024
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3477
<p><em>This research examines how the majority coalition configuration in a multi-party presidential system facilitated the practice of autocratic legalism during the revision of the Regional Head Election Law (UU Pilkada) in the House of Representatives (DPR) in August 2024. Using a qualitative approach, using a holistic single case study method and process tracing techniques, this research explores the mechanisms of power relations between the executive and legislative branches. The results show that the consolidation of President Joko Widodo's majority coalition, which holds 91.3 percent of the DPR seats, strengthened through the use of executive toolkits in the form of personal and coercive party coalition management, and the allocation of cabinet seats intertwined with reward-punishment mechanisms, has created high ideological congruence and low governing costs. This condition transforms the DPR's function into an approving mechanism for the executive, which then becomes a precondition for the operationalization of autocratic legalism through constitutional capture with selective decision-making, fast-track legislation that addresses hundreds of issue lists in approximately seven hours without public participation, and a shift from the rule of law to rule by law using the official forum of the Legislative Body as a legal cover. However, this study also found that the executive's dominance over the legislature reached its limits when faced with massive external pressure from civil society, which ultimately canceled the ratification of the revision due to a lack of quorum at the Plenary Session.</em></p>Lutfia HarizuandiniCecep Hidayat
Copyright (c) 2026 Lutfia Harizuandini, Cecep Hidayat
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541656167110.55681/seikat.v5i4.3477Penerapan Prinsip Partisipasi yang Bermakna dalam Pembentukan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 Tentang Desa Tinjauan Pemenuhan Hak Partisipasi Publik dalam Proses Legislasi
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2834
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya respons terhadap pentingna menunjung tinggi prinsip partisipasi bermakna dalam perumusan undang-undang sebagai perwujudan demokrasi partisipatif dan supermasi hukum. Prinsip ini berdasarkan landasan konstitusional yang lebih kuat pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU.XV111/2000 yang menegaskan hak masyarakat untuk mengakses informasi, menyampaikan pendapat, agar aspirasi mereka dipertimbangkan selama proses legislatif. Namun pemberlakuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 6 Tahun 3014 tentang desa telah memicu berbagai reaksi mengenai sejauh mana partisipasi masyarakat telah diimplementasikan secara bermakna dan memenuhi standar yang ditetapkan dalam prinsip partisipasi bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip partisipasi yang bermakna (<em>meaningful participation)</em> dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Desa dan untuk menganalisis pemenuhan hak partisipasi public dalam proses pembentukan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Desa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (<em>statue approach</em>) dan pendekatan konseptual (<em>conceptual approach</em>). Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip partisipasi bermakna dalam penyusunan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Desa dilakukan melalui beberapa mekanisme partisipasi publik, seperti dengar pendapat publik dan penyampaian keprihatinan masyarakat oleh kelompok masyarakat. Namun, pemenuhan hak partisipasi publik belum sepenuhnya optimal karena keterbatasan akses informasi, keterlibatan perwakilan masyarakat, dan transparansi terkait tindak lanjut masukan publik. Oleh karena itu, perlu diperkuat mekanisme partisipasi yang lebih inklusif, transparan, dan responsif untuk mewujudkan proses legislatif yang demokratis dan adil.</p>Artanti Putri CandraningtyasRosita Candrairana
Copyright (c) 2026 Artanti Putri Candraningtyas, Rosita Candrairana
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06541721173610.55681/seikat.v5i4.2834Feeling Homey: Abuse of Residence Permits in Southeast Asia, Privilege and Precarity
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3334
<p><em>The abuse of residence permits by foreign nationals has become an increasing concern in Southeast Asia due to its connection with immigration violations, transnational crime, and challenges in migration governance. This issue is not limited to administrative violations such as overstaying but also involves the misuse of tourist and business visas, document forgery, and exploitation of legal loopholes for economic or criminal purposes. This study aims to examine the forms, underlying factors, and regulatory challenges related to residence permit abuse in Southeast Asia, with particular attention to Indonesia. This research employs a descriptive qualitative approach through library research by analyzing secondary sources, including academic literature, policy documents, and relevant reports. The findings indicate that residence permit abuse is influenced by various factors, including global mobility, economic inequality, digital migration trends, weak regulatory adaptation, and limited coordination among law enforcement institutions. The study also highlights the influence of social privilege and migrant vulnerability in shaping different experiences of immigration enforcement. Strengthening integrated monitoring systems, improving inter-agency cooperation, and developing adaptive immigration policies are essential to establish a more effective, fair, and sustainable immigration governance framework in Southeast Asia.</em></p>Sultan Randu Kuning Putra Ferdiansyah
Copyright (c) 2026 Sultan Randu Kuning Putra Ferdiansyah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541600161810.55681/seikat.v5i4.3334Analisis Usulan Penolakan Merek pada Tahap Pemeriksaan Substantif serta Tanggung Jawab Konsultan Kekayaan Intelektual sebagai Kuasa Pemohon Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3071
<p><em>Pendaftaran merek di Indonesia menganut asas first to file, yaitu hak eksklusif atas merek diberikan kepada pihak yang pertama kali mengajukan permohonan pendaftaran dengan itikad baik. Meskipun demikian, dalam tahap pemeriksaan substantif, suatu permohonan dapat diusulkan untuk ditolak apabila memenuhi alasan penolakan sebagaimana diatur dalam Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian terhadap usulan penolakan tidak dapat didasarkan semata-mata pada persamaan satu unsur kata, tetapi harus mempertimbangkan keseluruhan aspek visual, fonetik, konseptual, dan kesan keseluruhan (overall impression) dari merek yang dibandingkan. Penelitian ini juga membuktikan bahwa kata "BLESSING" telah digunakan secara luas dalam berbagai merek terdaftar pada Kelas 25 sehingga tingkat eksklusivitasnya menjadi terbatas dan tidak dapat dimonopoli oleh satu pihak. Diterimanya hearing dan diterbitkannya sertifikat merek membuktikan bahwa argumentasi hukum yang disusun secara profesional berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, doktrin, dan fakta hukum mampu memberikan perlindungan hukum yang efektif bagi pemohon serta memperkuat kepastian hukum dalam sistem pendaftaran merek di Indonesia.</em></p>Henky Solihin MZ
Copyright (c) 2026 Henky Solihin MZ
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-072026-08-07541768177810.55681/seikat.v5i4.3071Strengthening Global Diversity Character through Pancasila Education Learning at Makassar City State Senior High Schools
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3419
<p><em>This study aims to determine: (1) The relevance of the Pancasila Education learning program to the formation of global diversity character in Makassar City State Senior High Schools; (2) teacher strategies in strengthening global diversity character through Pancasila Education learning; and (3) factors that support and inhibit in strengthening global diversity character through Pancasila Education learning in Makassar City State Senior High Schools. This study uses a qualitative approach with a descriptive research type. This research was conducted at Makassar State Senior High School 1 and Makassar State Senior High School 4. Research informants included the principal, Pancasila Education teachers, and students. The types of data used in this study were primary data and secondary data. Data collection techniques were interviews, observation, and documentation. Data validity testing used source triangulation, technical triangulation, and time triangulation. Data analysis techniques used the Miles and Huberman model which included data reduction, data presentation, as well as drawing conclusions and verification. The results of this study indicate that (1) The Pancasila Education learning program has a very strong relevance to the formation of global diversity character which includes aspects of knowing and appreciating culture, the ability to communicate interculturally and interact with others, as well as reflection and responsibility for diversity experiences. (2) Teacher strategies in strengthening global diversity character through Pancasila Education learning are integrated through learning planning and implementation. (3) Factors that support the strengthening of global diversity character through Pancasila Education learning include school support, facilities and infrastructure, and the diversity of student backgrounds. The factors that inhibit the strengthening of global diversity character through Pancasila Education learning include students' lack of understanding of the concept of global diversity, the influence of social media, and parenting patterns from the family environment.</em></p>Adim Isral AyubiFirman UmarBakhtiar Bakhtiar
Copyright (c) 2026 Adim Isral Ayubi, Firman Umar, Bakhtiar Bakhtiar
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541533154810.55681/seikat.v5i4.3419Analisis Dinamika After New Social Movement Pada Gerakan Indonesia Gelap
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/2702
<p><em>Research on "</em><em>IndonesiaGelap</em><em>" as a contemporary social movement in Indonesia through the framework of the after New Social Movement. The research aims to analyze trigger conflicts, digital activism, the construction of collective meaning and identity, as well as the power relations and structural barriers that shape these movements. This study uses a qualitative approach by analyzing digital discourse, social media narratives, online sentiment, and socio-political developments that are the background for the emergence of #IndonesiaGelap hashtags at the beginning of Indonesia's new government period in 2025. The findings of the study show that they arise due to the increasing anxiety of the younger generation about economic uncertainty, declining trust in government institutions, education policy controversies, democratic declines, and perceptions of social injustice. Digital platforms serve as alternative public spaces expressing criticism, emotional solidarity, satire, and symbolic resistance through decentralized and network-based participation. There is a contest between the narrative of optimism and development with the counter-narrative of young people. Through the perspective of after NSM, this study found that Dark Indonesia represents a change in the form of social movements marked by fluid organization, emotional mobilization, symbolic politics, and the transformation of digital discourse into offline collective action. This study concludes that the activism of the contemporary young generation in Indonesia is increasingly moving towards democratic meaning, recognition, and accountability rather than through formal political structures. This research contributes to the understanding of digital activism and contemporary social movements in Indonesia's socio-political development.</em></p>Muflih IhsanHurriyah
Copyright (c) 2026 Muflih Ihsan, Hurriyah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06541737175110.55681/seikat.v5i4.2702Analisis Praktik Klientelisme dan Faktor yang Memengaruhinya dalam Pemilihan Kepala Desa
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3291
<p><em>Village head elections (Pilkades) should ideally follow programmatic logic, yet in practice they are often characterized by personal and transactional clientelism. This study analyzes the forms of clientelism and the factors shaping it in a Pilkades in Simeulue Regency, Aceh, involving informants such as the elected village head, campaign team members, hamlet heads, village officials, the Village Consultative Council (BPD), and voters. Employing a qualitative case study approach, the analysis draws on Hicken's (2011) four elements of clientelism and Aspinall and Berenschot's (2020) framework on brokerage and decentralization in Indonesia's patronage democracy. Findings reveal that clientelism operates systemically through dyadic relationships rooted in kinship, economic dependence, and organizational proximity; contingent exchanges manifested in implicit vote-buying, selective social assistance, and job promises; hierarchy legitimized by kinship ties and incumbency status; and sustained relations before and after the election. The study offers a conceptual contribution by proposing the "community-based broker" an actor whose mobilization effectiveness derives from pre-existing communal authority rather than formal campaign assignments. This practice is reinforced by village-level decentralization, the role of community brokers, and the community's economic dependence on the patron.</em></p>Putri Aulia
Copyright (c) 2026 Putri Aulia
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-052026-08-05541467147710.55681/seikat.v5i4.3291Model Penyelesaian Sengketa Non-Litigasi dalam Penguatan Economic Security ASEAN: Rekonstruksi Alternative Dispute Resolution melalui Pendekatan Cooperative Security
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3664
<p>Integrasi ekonomi ASEAN, peningkatan interdependensi perdagangan dan investasi, transformasi ekonomi digital, serta keterhubungan rantai pasok regional telah menjadikan sengketa ekonomi tidak hanya sebagai persoalan hukum antarpara pihak, tetapi juga sebagai isu yang berimplikasi terhadap economic security kawasan. Meskipun ASEAN telah memiliki berbagai mekanisme penyelesaian sengketa, termasuk ASEAN Protocol on Enhanced Dispute Settlement Mechanism (EDSM), ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA), dan mekanisme konsultasi sektoral, implementasinya masih menghadapi keterbatasan berupa fragmentasi kelembagaan dan orientasi penyelesaian yang cenderung formal serta reaktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterbatasan mekanisme penyelesaian sengketa ekonomi ASEAN dan merekonstruksi fungsi Alternative Dispute Resolution (ADR) sebagai instrumen preventive dispute management dalam kerangka cooperative security. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan perjanjian, konseptual, serta komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme penyelesaian sengketa ASEAN perlu diarahkan dari orientasi dispute settlement menuju pendekatan preventif yang mengintegrasikan konsultasi dini, negosiasi, mediasi, konsiliasi, pembangunan kepercayaan (confidence building), dan Online Dispute Resolution (ODR). Penelitian ini menawarkan ASEAN Economic Security-Oriented ADR Framework sebagai model konseptual yang menempatkan ADR tidak hanya sebagai mekanisme penyelesaian sengketa, tetapi sebagai instrumen tata kelola economic security untuk mencegah eskalasi konflik, memperkuat stabilitas perdagangan dan investasi, meningkatkan ketahanan rantai pasok, serta mendukung keberlanjutan integrasi ekonomi ASEAN.</p>AprinisaGia Ayu Fita
Copyright (c) 2026 Aprinisa, Gia Ayu Fita
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-062026-08-06541684169710.55681/seikat.v5i4.3664